Showing posts with label Islami. Show all posts
Showing posts with label Islami. Show all posts

Monday, October 24, 2016

Aisyah Istri Rasullullah Saw


Sosok ini  tentu tidak asing lagi bagi kita. Wanita salehah yang juga merupakan satu-satunya istri Rasulullah yang bukan janda ini adalah sosok wanita yang banyak meriwayatkan hadis. Rasulullah sangat mencintai istrinya ini.

Kisah Aisyah ini, meski tidak disebut namanya secara langsung merupakan kisah yang mengajarkan pada kita tentang kesabaran dalam menghadapi fitnah keji. Juga tentang kesabaran menghadapi orang-orang bodoh yang tidak tahu duduk persoalannya dana menyebar berita-berita menurut persepsi mereka sendiri. Kisah yang tersurat dalam surat An-Nur ini adalah kisah tentang sejarah orang yang bersabar menghadapi fitnah.

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. membuka lembaran kehidupan rumah tangganya dengan Aisyah yang telah banyak dikenal. Aisyah laksana lautan luas dalam kedalaman ilmu dan takwa. Di kalangan wanita, dialah sosok yang banyak menghafal hadits-hadits Nabi, dan di antara istri-istri Nabi, dia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki istri Nabi yang lain. Ayahnya adalah sahabat dekat Rasulullah yang menemani beliau hijrah. Berbeda dengan istri Nabi yang lain, kedua orang tua Aisyah melakukan hijrah bersama Rasulullah. Ketika wahyu datang kepada Rasulullah, Jibril membawa kabar bahwa Aisyah adalah istrinya di dunia dan akhirat, sebagaimana diterangkan di dalam hadits riwayat Tirmidzi dari Aisyah : Jibril datang membawa gambarnya pada sepotong sutera hijau kepada Nabi Shallallahu alaihi wassalam., lalu berkata, ini adalah istrimu di dunia dan akhirat. Dialah yang menjadi sebab atas turunnya firman Allah yang menerangkan kesuciannya dan membebaskannya dari fitnah orang-orang munafik.

Nasab dan Masa KeciI Aisyab Aisyah adalah putri Abdullah bin Quhafah bin Amir bin Amr bin Kaab bin Saad bin Tamim bin Marrah bin Kaab bin Luay, yang lebih dikenal dengan nama Abu Bakar ash-Shiddiq dan berasal dari suku Quraisy at-Taimiyah al-Makkiyah. Ayahnya adalah ash-Shiddiq dan orang pertama yang mempercayai Rasulullah ketika terjadi Isra Miraj, saat orang-orang tidak mempercayainya. Menurut riwayat, ibunya bernama Ummu Ruman. Akan tetapi, riwayat-riwayat lain mengatakan bahwa ibunya adalah Zainab atau Waid binti Amir bin Uwaimir bin Abdi Syams. Aisyah pun digolongkan sebagai wanita pertama yang masuk Islam, sebagaimana perkataannya, Sebelum aku berakal, kedua orang tuaku sudah menganut Islam. Ummu Ruman memberikan dua orang anak kepada Abu Bakar, yaitu Abdurrahman dan Aisyah. Anak Iainnya, yaitu Abdullah dan Asma, berasal dan Qatlah binti Abdul Uzza, istri pertama yang dia nikahi pada masa jahiliyah. Ketika masuk Islam, Abu Bakar menikahi Asma binti Umais yang kemudian melahirkan Muhammad, juga menikahi Habibah binti Kharijah yang melahirkan Ummu Kultsum. Aisyah dilabirkan empat tahun sesudah Nabi diutus menjadi Rasulullah. Ketika dakwah Islam dihambat oleh orang-orang musyrik, Aisyah melihat bahwa ayahnya menanggung beban yang sangat besar. Semasa kecil dia bermain- main dengan lincah, dan ketika dinikahi Rasulullah usianya belum genap sepuluh tahun. Dalam sebagian besar riwayat disebutkan bahwâ Rasulullah membiarkannya bermain-main dengan teman-temannya.
Dua tahun setelah wafatnya Khadijah r.a, datang wahyu kepada Nabi Shallallahu alaihi wassalam. untuk menikahi Aisyah . Setelah itu Rasulullah berkata kepada Aisyah, Aku melihatmu dalam tidurku tiga malam berturut-turut. Malaikat mendatangiku dengan membawa gambarmu pada selembar sutera seraya berkata, Ini adalah istrimu. Ketika aku membuka tabirnya, tampaklah wajahmu. Kemudian aku berkata kepadanya, Jika ini benar dari Allah, niscaya akan terlaksana. Mendengar kabar itu, Abu Bakar dan istrinya sangat senang, terlebih lagi ketika Rasulullah setuju menikahi putri mereka, Aisyah. Beliau mendatangi rumah mereka dan berlangsunglah pertunangan yang penuh berkah itu. Setelah pertunangan itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. hijrah ke Madinah bersama para sahabat, sementara istri-istri beliau ditinggalkan di Mekah. Setelah beliau menetap di Madinah, beliau mengutus orang untuk menjemput mereka, termasuk di dalamnya Aisyah . Karena cuaca buruk yang melanda Madinah, Aisyah sakit keras dan badannya menyusut seperti juga dialami orang-orang Muhajirin. Menyaksikan hal itu, Rasulullah berdoa, Ya Allah, jadikanlah karni sebagai orang yang mencintai Madinah sebagaimana cinta kami kepada Mekah, atau bahkan lebih lagi. Sembuhkanlah penghuninya dan penyakit. Berikanlah keberkahan kepada kami dalam timbangan dan takarannya. Lindungilah kami dan penyakit, dan alihkanlah penyakit itu ke Juhfah. Allah mengabulkan doa Rasulullah, dan cuaca berangsur membaik, sehingga hilanglah penyakit yang melanda kaum muhajirin. Aisyah pun sembuh dan bersiap-siap menghadapi hari pernikahan dengan Rasuhillah Shallallahu alaihi wassalam. Dengan izin Allah menikahlah Aisyah dengan maskawin lima ratus dirham. Ketika ditanya oleh Abu Salamah bin Abdurrahman tentang jumlah mahar yang diberikan Rasulullah: Aisyab menjawab, Mahar Rasulullah kepada istri-irstrinya adalah dua belas uqiyah dan satu nasy. Tahukah kamu satu nasy itu? Dijawab, Tidak. Kemudian lanjut Aisyah. Satu nasy itu sama dengan setengah uqiyah, yaitu lima ratus dirham. Maka inilah mahar Rasulullah terhadap istri-istri beliau. (HR. Muslim)

Aisyah adalah istri yang menyertai Rasulullah dalam perang Bani al-Mustahiq. Saat itu bertepatan dengan turunnya perintah memakai hijab. Setelah perang selesai dan kaum muslimin memetik kemenangan, Rasulullah kembali ke Madinah. Ketika tentara Islam sedang beristirahat di sebuah pelataran, Aisyah masih berada di dalam sekedup untanya. Pada malam harinya, rasulullah mengizinkan rombongan berangkat pulang. Aisyah pergi untuk hajatnya dan kembali. Ternyata, kalung lehernya jatuh dan hilang sehingga dia keluar dari pasukan yang siap berangkat, sekedup yang mereka angkat ternyata kosong. Mereka mengira Aisyah berada dalam sekedup.
Setelah kalungnya ditemukan, Aisyah kembali ke pasukan. Namum, alangkah kagetnya karena tidak ada seorangpun yang ia temukan. Aisyah tidak meninggalkan tempat itu dan mengira penuntun unta akan tahu bahwa dirinya tidak berada di dalamnya. Sambil menunggu, Aisyah tertidur. Ketika Aisyah tertidur, lewatlah Shafwan bin Muthil yang terheran-heran melihat Aisyah tidur sendirian. Dia membantu dan mempersilahkan Aisyah menunggangi untanya dan dia menuntun di depannya. Berawal dari kejadian itulah fitnah tersebar yang disulut oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga, janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Siapa diantara mereka mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar. (QS. An-Nur: 11)

Hanya karena Shafwan bin Muthil berdua-an dengan Aisyah yang berada di untanya maka timbullah fitnah tersebut. Dalam konteks zaman sekarang, seorang wanita yang berjalan berdua dengan yang bukan suaminya tidak menimbulkan fitnah besar seperti zaman nabi karena dekadensi moral yang sudah sedemikian parah. Namun, di zaman generasi terbaik umat Islam hal tersebut bisa memancing kontroversi dan bahkan fitnah. Tidaklah heran Allah  turun tangan untuk mengklarifikasi kesucian Aisyah.

Kesalehan dan kesabaran  Aisyah dalam menghadapi fitnah berbuah manis. Ia semakin terhormat di mata Rasulullah dan kaum mukminin. Andai saja dulu Aisyah tidak sabar, marah atas fitnah yang menimpanya, atau bahkan menuntut cerai kepada Rasulullah tentu saja sejarah akan berkata lain.
Aisyah memiliki wawasan ilmu yang luas serta menguasai masalah-masalah keagamaan, baik yang dikaji dari Al-Quran, hadits-hadits Nabi, maupun ilmi fikih. Tentang masalah ilmu-ilmu yang dimiliki Aisyah ini, di dalam Al-Mustadrak, al-Hakim mengatakan bahwa sepertiga dari hukum-hukum syariat dinukil dan Aisyah. Abu Musa al-Asyaari berkata, Setiap kali kami menemukan kesulitan, kami temukan kemudahannya pada Aisyah. Para sahabat sering meminta pendapat jika menemukan masalah yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri. Aisyah pun sering mengoreksi ayat, hadits, dan hukum yang keliru diberlakukan untuk kemudian dijelaskan kembali maksud yang sebenarnya. Salah satu contoh adalah perkataan yang diungkapkan oleh Abu Hurairah. Ketika itu Abu Hurairah merujuk hadits yang diriwayatkan oleh Fadhi ibnu Abbas bahwa barang siapa yang masih dalam keadaan junub pada terbit fajar, maka dia dilarang berpuasa. Ketika Abu Hurairah bertanya kepada Aisyah, Aisyah menjawab, Rasulullah pernah junub (pada waktu fajar) bukan karena mimpi, kemudian beliau meneruskan puasanya. Setelah mengetahui hal itu, Abu Hurairah berkata, Dia lebih mengetahui tentang keluarnya hadits tersebut. Kamar Aisyah lebih banyak berfungsi scbagai sekolah, yang murid-muridnya berdatangan dari segala penjuru untuk menuntut ilmu. Bagi murid yang bukan mahramnya, Aisyah senantiasa membentangkan kain hijab di antara mereka. Aisyah tidak pernah mempermudah hukum kecuali jika sudah jelas dalilnya dari A1-Quran dan Sunnah. Aisyah adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah sehingga banyak menyaksikan turunnya wahyu kepada beliau, sebagairnana perkataannya ini: Aku pernah melihat wahyu turun kepada Rasulullah pada suatu hari yang sangat dingin sehingga beliau tidak sadarkan diri, sementara keringat bercucuran dari dahi beliau. (HR. Bukhari) Aisyah pun memiliki kesempatan untuk bertanya langsung kepada Rasulullah jika menemukan sesuatu yang belum dia pahami tentang suatu ayat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dia memperoleh ilmu langsung dan Rasulullah sebagaimana ungkapannya ini: Aku bertanya kepada Rasulullah tentang ayat Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut. (QS. Al-Muminun: 60). Apakah yang dimaksud dengan ayat di atas adalah para peminum khamar dan pencuri? Beliau menjawab, Bukan, putri ash-Shiddiq! Mereka adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, tetapi takut (amal mereka tidak diterima). Mereka menyegerakan diri dalam kebaikan, tetapi mendahului (menentukan sendiri) kebaikan tersebut. (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi). Aisyah berkata lagi: Aku bertanya kepada Rasulullah tentang firman Allah: Yauma tabdalul-ardhu ghairal-ardha was-samawati. Di manakah manusia berada, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Manusia berada di atas shirath. (HR. Muslim) Aisyah termasuk wanita yang banyak menghafalkan hadits-hadits Nabi Shallallahu alaihi wassalam, sehingga para ahli hadits menernpatkan dia pada urutan kelima dari para penghafal hadits setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik, dan Ibnu Abbas. Aisyah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki siapa pun, yaitu meriwayatkan hadits yang langsung dia peroleh dan Rasulullah dan menghafalkannya di rumah. Karena itu, sering dia meriwayatkan hadits yang tidak pernah diriwayatkan oleh perawi hadits lain. Para sahabat penghafal hadits sering mengunjungi rurnah Aisyah untuk langsung memperoleh hadits Rasulullah karena kualitas kebenarannya sangat terjamin. Jika berselisih pendapat tentang suatu masalah, tidak segan-segan mereka meminta penyelesaian dari Aisyah. Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, anak saudara laki-laki Aisyah, mengatakan bahwa pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, Aisyah rnenjadi penasihat pemerintah hingga wafat. Aisyah dikenal sebagai perawi hadits yang mengistinbath hukum sendiri ketika kejelasan hukumnya tidak ditemukan dalam Al-Quran dan hadits lain. Dalam hal ini, Abu Salamah berkata, Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih mengetahui Sunnah Rasulullah, lebih benar pendapatnya jika dia berpendapat, lebih mengetahui bagaimana Al-Quran turun, serta lebih mengenal kewajibannya selain Aisyah. Suatu ketika Saad bin Hisyam menemui Aisyah, dan berkata, Aku ingin bertanya tentang bagaimana pendapatmu jika aku tetap membujang selarnanya. Aisyah menjawab, Janganlah kau lakukan hal itu, karena aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda tentang firman Allah: Telah kami utus rasul-rasul sebelummu, dan Kami telah ciptakan bagi mereka istri-istri dan keturunan. Oleh karena itu, janganlah kamu membujang. Urwah bin Zubeir, salah seorang murid Aisyah, sangat mengagumi keluarbiasaan penguasaan ilmu Aisyah. Dia berkata, Aku berpikir tentang urusanmu. Sungguh aku mengagumimu. Menurutku engkau adalah manusia yang paling banyak mengetahui sesuatu. Aisyah berkata, Apa yang menyebabkanmu berpendapat seperti itu? Dia menjawab, Engkau adalah istri Nabi Shallallahu alaihi wassalam dan putri Abu Bakar. Engkau mengetahui hari-hari, nasab, dan syair orang-orang Arab. Dia berkata lagi, Apa yang menyebabkan engkau dan ayahmu menjadi orang yang paling pandai dariipada seluruh orang Quraisy? Aku sangat mengagumi kepandaianmu tentang ilmu medis. Dari manakah engkau mendapatkan ilmu itu? Aisyah menjawab, Wahai Urwah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sering sakit, sehingga dokter-dokter Arab dan bukan Arab datang mengobati beliau. Dari merekalah aku belajar. Tentang penguasaan bahasa dan sastranya, kembali Urwah berkomentar, Demi Allah, aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih fasih dariipada Aisyah selain Rasulullah sendiri. Al-Ahnaf bin Qais berkata, Aku telah mendengar khutbah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Alii bin Abi Thalib. Hingga saat ini aku belum pernah mendengar satu perkataan pun dari makhluk Tuhan yang lebih berisi dan baik daripada perkataan Aisyah. Salah satu contoh kefasihannya dapat kita lihat dari kata-katanya pada kuburan ayahnya, Abu Bakar: Allah telah mengilaukan wajahmu, dan bersyukur atas kebaikan yang telah engkau perbuat. Engkau merendahkan dunia karena engkau berpaling darinya. Akan tetapi, untuk engkau adalah mulia, karena engkau selalu menghadap untuknya. Kalau peristiwa terbesar setelah Rasulullah wafat dan musibah terbesar adalah kematianmu, Kitab Allah rnenghibur dengan kesabaran dan menggantikan yang baik selainmu. Aku merasakan janji Allah yang telah ditetapkan bagirnu dan ikhlas atas kepergianmu. Dengan memohon dari-Nya gantimu dan aku berdoa untukmu. Kami hanyalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. Bagimu salam sejahtera dan rahmat Allah. Dari Aisyah pun sering keluar kata-kata hikmah yang terkenal, seperti: Bagi Allah mutiara takwa. Takkan ada kesembuhan bagi orang yang di dalarn hatinya terbersit kemarahan. Pernikahan adalah perbudakan, maka seseorang hendaklah melihat kepada siapa dia mengabdikan putri kemuliaannya.

Dalam hidupnya yang penuh dengan jihad, Sayyidah Aisyah wafat pada usia 66 tahun, bertepatan dengan bulan Ramadhan, tahun ke-58 hijriah, dan dikuburkan di Baqi. Kehidupan Aisyah penuh kernuliaan, kezuhudan, ketawadhuan, pengabdian sepenuhnya kepada Rasulullah, selalu beribadah, serta senantiasa melaksanakan shalat malam. Bahkan dia sering memberikan anjuran untuk shalat malam kepada kaum muslimin. Dari Abdullah bin Qais, Imam Ahmad menceritakan, Aisyah berkata, Janganlah engkau tinggalkan shalat malam, karena sesungguhnya Rasulullah tidak pernah meninggalkannya. Jika beliau sakit atau sedang malas, beliau melakukannya sambil duduk. Aisyah memiliki kebiasaan untuk memperpanjang shalat, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan Abdullah bin Abu Musa, Mudrik atau Ibnu Mudrik mengutusku kepada Aisyah untuk menanyakan segala urusan. Aku tiba ketika dia sedang shalat dhuha, lalu aku duduk sampai dia selesai melaksanakan shalat. Mereka berkata, Sabar-sabarlah kau menunggunya. Aisyah pun senantiasa memperbanyak doa, sangat takut kepada Allah, dan banyak berpuasa sekalipun cuaca sedang sangat panas. Di dalam Musnad-nya, Ahmad berkata, Abdurrahman bin Abu Bakar menemui Aisyah pada hari Arafah yang ketika itu sedang berpuasa sehingga air yang dia bawa disiramkan kepada Aisyah. Abdurrahman berkata, Berbukalah. Aisyah menjawab, Bagaimana aku akan berbuka sementara aku mendengar Rasulullah telah bersabda, Sesungguhnya puasa pada hari Arafah akan menebus dosa-dosa tahun sebelumnya. Selain itu, Aisyah banyak mengeluarkan sedekah sehingga di dalam rumahnya tidak akan ditemukan uang satu dirham atau satu dinar pun. Nabi Shallallahu alaihi wassalam. pernah bersabda, Berjaga dirilah engkau dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Di dalam riwayat lain dikatakan, Aku didatangi oleh seorang ibu yang membawa dua orang putrinya. Dia meminta sesuatu dariku sedangkan aku tidak memiliki apa pun untuk diberikan kepada mereka selain satu biji kurma. Aku memberikan kurma itu kepadanya, dan ibu itu membaginya kepada kedua anaknya. Dia berdiri kern udian pergi. Setelab itu Rasulullab masuk dan bersabda, Barang siapa mengasuh anak-anak itu dan berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan rnenjadi penghalang baginya dari api neraka. (HR. Muttafaq Alaihi). Ada juga riwayat lain yang membuktikan kedermawanan Aisyah. Urwah berkata, Muawiyah memberikan uang sebanyak seratus ribu dirham kepada Aisyah. Demi Allah, sebelum matahari terbenam, Aisyah sudah membagi-bagikan sernuanya. Budaknya berkata, Seandainya engkau belikan daging untuk kami dengan uang satu dirham. Aisyah menjawab, Seandainya engkau katakan hal itu sebelum aku membagikan seluruh uang itu, niscaya akan aku lakukan hal itu untukmu. Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah Aisyah dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Siti Hajar

Siti Hajar adalah wanita cantik yang terkenal karena keteguhan keimanan, ketakwaan dan tawakalnya kepada Allah Swt.  Pada saat Nabi Ibrahim membawa Hajar dan putranya menuju Mekkah, Hajar dalam keadaan menyusui Ismail. Pada saat itu, di Mekkah tidak ada seorangpun, dan tidak pula ada air. Ibrahim meletakkan keduanya di sana dan di sisi mereka geribah yang di dalamnya terdapat kurma dan\ bejana yang di dalamnya terdapat air.

Setelah itu, Ibrahim berangkat dan diikuti oleh Hajar seraya berkata, Hai Ibrahim, ke mana engkau hendak pergi? Apakah engkau meninggalkan kami sedang di lembah ini tidak terdapat seorang manusia pun dan tidak pula makanan apapun ?. Yang demikian diucapkan berkali-kali, namun Ibrahim tidak menoleh sama sekali, hingga akhirnya Hajar berkata, Apakah Allah Swt.  menyuruhmu melakukan ini?. Ya, jawab Ibrahim. Kalau begitu, kami tidak di sia-siakan.
Seperti diceritakan dalam Al-Quran: surah Ibrahim ayat, 37: Hai Tuhan kami! Sesungguhnya kami telah menempatkan anak keturunan kami di lembah yang tidak ada tanaman sama sekali (Mekah) pada tempat rumah-Mu (Kabah) yang terhormat. Hai Tuhan kami! Semoga mereka tetap mendirikan salat. Hendaklah Engkau jadikan hati manusia rindu kepada mereka. Berilah mereka rejeki yang berupa buah-buahan, mudah-mudahan mereka mengucapkan syukur kepada Tuhan.
Setelah kepergian Nabi Ibrahim, Hajar tetap menyusui Ismail dan minum dari air yang tersedia sehingga ketika air yang ada dalam bejana itu sudah habis, maka ia dan juga putranya merasa haus. Ketika Siti Hajar telah kehabisan air, ia merasa sangat haus, karena itu air susunya terasa berkurang, dan bayinya (Ismail) ikut menderita karena kekurangan air susu.

Siti Hajar mencari air kemana-mana, mondar mandir antara bukit Sofa dan Bukit Marwa, kalau- kalau ada air di situ. Perbuatan Siti Hajar ini sampai sekarang dijadikan sebagian dari rukun Ibadah haji yang dinamakan Sai (pulang balik antara Sofa dan Marwa) sebanyak tujuh kali, dengan membacakan nama kebesaran Allah Swt. , mensucikan dan mengagungkan Allah Swt. .

Tak lama kemudian Siti Hajar mendengar suara (suara Jibril) yang membawa dan menunjukkan Siti Hajar ke suatu tempat, dan disana di hentakkan kakinya ke bumi, maka terpancarlah mata air yang sangat jernih dari dalamnya. Maka dengan segera Siti Hajar mengambil air itu untuk memberi minum anaknya.. mata air itu semula meluap kemana-mana, kemudian Malaikat berkata, Zamzam artinya, berkumpullah. Maka, mata air itu pun berkumpul, dan sampai sekarang mata air itu dinamakan sebagai Air Zam zam. Berkat rahmat Allah Swt.  yang Maha Kuasa, air zamzam itu tidak pernah kering sampai sekarang walau pun dipergunakan oleh sangat banyak manusia yang mengambilnya.

Pada suatu hari lewatlah di sana serombongan orang Arab Jurhum, yang kebetulan mereka sangat memerlukan air, mereka sudah mencari kesana kemari, tapi belum menemukannya
Tiba-tiba terlihat oleh mereka burung-burung yang sedang berterbangan di atas suatu bukit, biasanya ini suatu pertanda bahwa disana ada mata air. Karena burung itu biasanya senang terbang di atas mata air. Maka pergilah mereka ke sana, dan ternyata benar disana ada mata air, yang disana ada Siti Hajar dan Bayinya, Ismail. Karena kebaikan hati Siti Hajar kepada mereka dengan memberi air zamzam itu sekehendak yang mereka butuhkan, sehingga mereka tertarik hatinya untuk tinggal di sana bersama Siti Hajar.

Atas kebaikan hati Siti Hajar pula, maka rombongan orang Arab Jurhum itu memberikan sebagian barang dagangannya kepada Siti Hajar, sehingga Siti Hajar merasa senang dan bahagia hidupnya di sana. Lama-kelamaan, bertambahlah penduduknya dan jadilah suatu desa yang aman tentram serta subur dan makmur.

Setelah Ibrahim kembali ke Mekah untuk menemui istri dan anaknya, alangkah terkejutnya beliau melihat tempat itu sudah menjadi sebuah desa yang subur dan makmur, dan meliahat Siti Hajar hidup senang dan bahagia karena hidupnya berkecukupan. Siti Hajar menceritakan semua kejadian yang dialaminya kepada suaminya. Nabi Ibrahim memuji kebesaran Allah Swt. , yang telah mengabulkan doanya yang lalu.

Dengan adanya mata air zam-zam tersebut, dalam waktu yang relatif singkat, tempat tersebut menjadi satu perkampungan yang kemudian terus membesar, sampai Mekkah saat ini, Mekkah yang didatangi oleh jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia.

Keimanan dan ketakwaan Siti Hajar dalam kisah ini diabadikan oleh Allah Swt.  menjadi salah satu rukun yang wajib dilakukan dalam ibadah haji, yaitu Sai.  Banyak sekali hikmah yang terkandung dalam rukun Sai dalam ibadah haji;  salah satunya adalah dalam menikmati sebuah proses kehidupan diperlukan kesabaran yang bukan berarti diam. Dengan berlarinya Hajar di antara Shafa dan Marwa, adalah bentuk ketakwaan yang ditunjukkan melalui satu upaya (ikhtiar) sebatas yang bisa dilakukan oleh dirinya pada saat itu.

Bentuk ketakwaan yang bisa dilakukan oleh Siti Hajar, adalah dengan berlari-lari, tidak dengan berdoa saja tanpa usaha lalu diam atau menangis saja meratapi nasibnya. Dan ketika ketakwaan sudah dilakukan, maka datanglah pertolongan Allah Swt. , dengan mengutus malaikat sebagaimana dikisahkan dalam hadis di atas.

Ratu Balqis


Saba, salah satu kerajaan kuno terbesar di daerah Yaman yang hadir jauh sebelum masehi dan sebelum Islam disebarkan oleh Nabi Muhammad. Ibukotanya Marib, sebuah kota dekat Sanaa, ibukota Yaman sekarang. Saking besarnya kekuasaan kerajaan ini, para sejarawan menyimpulkan bahwa luas daerah wilayahnya lebih luas dari wilayah Yaman sekarang. Banyak ahli yang menyebutkan bahwa Habasyah yang sekarang dikenal dengan Ethiopia dulunya masuk ke dalam kawasan kekuasaan kerajaan Saba.

Kisah Ratu Balqis dan Nabi Sulaiman bisa kita lihat dalam Al-Quran. Allah Swt.  berfirman: berkata ia (Balqis): hai pada pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku ini, aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelisku. (QS. An-Naml: 32).
Dan firmannya : ia berkata: Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang mereka perbuat. (QS. An-Naml: 34)

Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.
(QS. an-Naml [27]: 23).

Siapakah sesungguhnya yang dimaksud seorang wanita dalam firman Allah Swt.  di atas? Dialah Ratu Balqis yang memerintah negeri Saba di zaman Nabi Sulaiman. Ratu Balqis bersama rakyatnya menyembah matahari. Nabi Sulaiman kemudian berkirim surat kepada Ratu Balqis.

Ratu Balqis adalah seorang wanita yang sangat cantik dan mempunyai akal yang cerdas, oleh sebab itulah golongan jin merasa iri hati dengannya. Mereka mengatakan bahawa Ratu Balqis itu mempunyai dua aib, pertama tubuhnya pendek dan kedua betisnya seperti betis unta.
Suatu ketika, Raja Sulaiman mengundang Ratu Bilqis dari negeri Saba untuk mengunjungi kerajaannya. Dari kabar yang tersiar serta dari laporan para menterinya, beliau mendengar bahwasanya Ratu Bilqis adalah seorang penyembah matahari. Oleh karenanya Raja Sulaiman berniat menawarkan pengertian tentang konsep ketuhanan kepadanya.

Begitulah. Khusus untuk menyambut tetamu dari negeri Saba itu, Raja Sulaiman sengaja memerintahkan paraahlinya untuk membangun sebuah istana megah yang amat indah. Jalan menuju balairung tempat pertemuan diselenggarakan sengaja dipasangi lantai jubin terbuat dari kaca yang amat bening. Seperti firman Allah Swt.  Para jin membuat untuk Nabi Sulaiman apa yang dikehendaknya dari bangunan yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang besarnya seperti kolam dan periuk yang tetap berada di atas tungku. (Saba: 13)

Ketika Ratu Balqis dan rombongan tiba, Nabi Sulaiman bertanya kepadanya: Apakah ini singgahsanamu? Ratu Balqis menjawab: Mungkin! Ia tidak mengatakan ya, kerana dilihatnya ada sedikit perubahan. Tetapi tidak mengatakan bukan, disebabkan ada sebahagian yang serupa dengan singgah-sananya. Dari jawapan Ratu Balqis itu, tahulah Nabi Sulaiman as bahawa ia adalah seorang wanita yang berakal sempurna serta bijaksana.

Kemudian Nabi Sulaiman as menyuruh tamunya itu masuk ke dalam istana. Ketika Ratu Balqis melihat ke dalam istana, ia melihat seakan-akan ada aliran air, sehingga ia mengangkat kainnya, sehingga betisnya tersingkap. Nabi Sulaiman as melihat betisnya itu, maka tidak ada satu aibpun seperti yang disampaikan oleh golongan jin.

Nabi Sulaiman berkata kepada Ratu Balqis: Ini adalah sebuah mahligai yang licin, ia dibentuk daripada kaca. ketika Ratu Balqis menyaksikan betapa hebatnya Nabi Sulaiman, ia berkata dalam hatinya: Walaupun kerajaanku luas, singgahsanaku indah dan megah, bala tenteraku ramai, namun jika dibandingkan dengan semua yang aku saksikan ini, seakan-akan milikku tidak bererti.

Kemudian ia berkata seperti yang diungkapkan di dalam Quran, firman Allah Swt.  SWT surah An Naml ayat 44 bermaksud: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah Swt.  Tuhan semesta alam.

Istana ini memang sengaja dibangun berlantaikan kaca. Di bawahnya dialirkan kolam. Lalu engkau menyingsingkan kain untuk melintasinya, karena engkau melihat air. Padahal yang engkau sangkakan air itu, hanyalah kaca yang begitu bening.

Serupa itu pulalah matahari yang engkau sembah selama ini. Ia hanyalah benda mati semata. Wujud Tuhanlah yang berada di baliknya, yang memancarkan segala cahaya kehidupan kepada kita semua.Tanpa Dia, matahari itu tak berarti apa-apa. Ia bukan sumber cahaya sebenarnya. Tuhan Yang Maha Kuasalah yang telah menganugerahkan kepada benda langit itu cahaya yang dipancarkannya.

Ratu Bilqis amat terkesan, dan menerima kearifan ini. Ia pun meninggalkan kepercayaan lamanya, lalu mengikuti Raja Sulaiman untuk tunduk seutuhnya kepada Tuhan Yang Maha Mulia.
Di sini tampak kepribadian yang hakiki dibalik statusnya sebagai penguasa. Ia tidak suka pada peperangan dan pemusnahan. Ia lebih mengutamakan langkah-langkah taktis, damai dan diplomatis sebelum menempuh jalan melalui kekuatan militer.

Kisah lebih lengkap tentang Ratu Balqis kita pelajari dan tadaburi langsung dalam Al-Quran. Ibrah (pelajaran) dari kisah ini adalah bahwa jabatan tinggi dan kekuasaan ternyata tidak bernilai apapun ketika berhadapan dengan keimanan. Ratu Balqis tidak memiliki gengsi yang tinggi ketika ia mengakui keikhlasan Nabi Sulaiman dan kebenaran ajarannya dengan keikhlasan ia pun masuk Islam. Hikmahnya untuk  wanita saat ini, kekayaan dan jabatan tidak harus menjadi penghalang dalam menerima kebenaran, sekalipun kebenaran itu datang dari suaminya sendiri.

Pesan Moral dari kisah Balqis, Ratu Saba.
Meskipun kenyataan menunjukkan Balqis adalah seorang ratu yang memerintah suatu bangsa, namun kebanyakan kaum muslimin menganggap kepemimpinan sangatlah tidak patut dipikul oleh kaum perempuan. Al-Quran tidak menggunakan suatu istilah yang menyebutkan posisi pemimpin adalah tidak sesuai bagi kaum perempuan. Sebaliknyakisah Ratu Balqis dalam al-Quran justru menyinggung soal praktik politik dan keagamaannya.

Walaupun terdapat ayat yang menyebutkan (barangkali secara khusus) bahwa Ratu Balqis adalah seorang pemerintah perempuan (QS. An-Naml: 23), namun hal ini tidak lebih dari kutipan pernyataan soal burubg hudhud yang telah menyaksikan sang ratu. Di luar identifikasi ini sebagai perempuan, tidak pernah pembedaan, larangan, penambahan, pembatasan atau spesifikasinya sebagai perempuan yang memerintah.
Dalam episode berikutnya, ketika Balqis menerima surat dari Sulaiman, dan meminta pertimbangan dari para pembesar dan penasihatnya, terdapat pesan moral yang dapat diambil pelajarannya dan diaplikasikan dalam kehidupan kita. Meskipun Ratu Saba melaksanakan tata cara yang lazim dalam mengambil keputusan dan meminta pertimbangan para penasihatnya tentang masalah ini, ia juga telah memberikan indikasi pandangannya dengan menyebut surat itu sebagai karim. Karena itu, penundaan keputusan yang dilakukannya dalam hal ini bukanlah karena ketidakmampuannya mengambil keputusan, melainkan demi protocol dan diplomasi

Dengan demikian, jelaslah bahwa Ratu Balqis merupakan sosok penguasa yang sangat arif dan bijaksana. Hal ini dapat dilihat dari penilaiannya terhadap surat Nabi Sulaiman yang mengajaknya untuk menyembah Allah Swt.  semata, berserah diri kepadaNya dan tidak sombong, sebagai surat mulia. Memang at-TabatabaI misalnya, mengatakan bahwa Balqis bersikap demikian, karena surat tersebut dating dari Nabi Sulaiman yang sudah dikenal kekuasaannya, dan karena dalam surat itu disebut nama Allah Swt.  kendatipun Balqis saat itu belum beriman. Akan tetapi, menurut Sayyid Qutb, Balqis menyebut surat itu sebagai surat mulia untuk menghindari permusuhan dan perselisihan, meskipun tidak dengan terus terang. Sikapnya untuk bermusyawarah dengan para penasihat/pembesar kerajaannyadalam rangka menanggapi surat Nabi Sulaiman juga mengindikasikan kearifan Balqis. Dengan demikian, pemerintahan kerajaan Balqis bersifat demokratis. Otoritas kepala Negara tidak hanya berada di tangan Balqis sendiri, tetapi juga di tangan badan penasihat atau para pembesar kerajaan.

Selain sikapnya yang bijaksana, Ratu Balqis tampak mempunyai pandangan politik yang tajam. Setelah para pembesar kerajaan memberikan pandangan tentang kekuatan dan keberanian yang menunjukkan kecenderungan berperang, Balqis mengisyaratkan  ketidaksetujuannya, dengan menjelaskan akibat yang akan dating apabila terjadi peperangan. Balqis menyadari bahwa peperangan akan mendatangkan banyak malapetaka. Karena itu, dia berupaya mencari solusi terbaik, yaitu mengirimkan utusan yang membawa hadiah kepada Nabi Sulaiman. Keputusan ini mencerminkan kepribadian perempuan yang tidak menyukai peperangan, kekerasan, dan lebih memilih menggunakan tipu daya dan cara-cara halus sebelum menggelar kekuatan senjata

Beberapa orang menafsirkan keputusan Balqis yang cenderung memilih untuk mengirimkan hadiah ketimbang memperlihatkan kekuatan yang kasar sebagai politik yang feminin. Sebetulnya, kita bisa menilai dengan penilaian yang berbeda, yakni bahwa Ratu Balqis memiliki pengetahuan politik damai sekaligus pengetahuan spiritual mengenai pesan unik Nabi Sulaiman, dan hal itu menunjukkan ia memiliki kemampuan yang independen untuk memerintah secara bijaksana dan bisa diatur dengan baik untuk masalah-masalah spiritual. Jadi jelaslah, di sini terlihat adanya hubungan antara kebebasan keputusan politik yang dimilikinya daripada norma penasihat (laki-laki) disekitarnya, dengan kebebasannya untuk menerima kebenaran Islam, daripada norma-norma kaumnya.

Dalam kedua contoh itu, al-Quran memperlihatkan bahwa penilaian Balqis jauh lebih baik dibanding norma di sekelilingnya, dan kebebasannya menunjukkan penilaiannya yang lebih baik. Jika politiknya adalah politik feminine, kemudian keimanannya juga feminine, dan implikasinya akan menunjukkan bahwa masakulinitas sama sekali tidak menguntungkan. Keimanannya dan politiknya mungkin saja bersifat khas milik perempuan, tetapi keduanya jauh lebih baik. Keputusan ini menunjukkan seseorang yang memiliki pengetahuan, bertindak berdasarkan pengetahuan, dan oleh sebab itu bisa menerima kebenaran.

Dengan dalil-dalil di atas tentulah lebih tepat untuk dijadikan dasar kebolehan perempuan menjabat kepala Negara, dan rujukan sekaligus counter terhadap argumentasi-argumentasi yang diketengahkan pihak yang tidak setuju perempuan menjadi pemimpin suatu Negara. Al-Quran secara eksplisit menggambarkan perempuan (Ratu Balqis) yang menjabat kepala pemerintahan negeri Saba sebagai penguasa yang sah, dan bukan hanya berhasil mengentaskan rakyatnya dari kemiskinan dan kesengsaraan melainkan membawa ke kehidupan yang makmur dan mencapai budaya yang tinggi dalam bidang sains dan seni.

Siti Maryam

Nama Maryam bermakna ibadah. Orang tuanya memberikan nama tersebut karena berharap, bahwa nanti anaknya itu akan menjadi orang yang senantiasa beribadah kepada Allah Swt.  . Maryam adalah keturunan dari keluarga yang sholeh, berasal dari ayah dan ibu yang sholeh, dan dari semenjak kecil ia di asuh oleh orang yang sholeh pula, yaitu Nabi Zakaria as.

Dalam masa pertumbuhannya, Maryam sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah Swt.  . Ia adalah wanita yang gemar sekali berpuasa dan melaksanakan salat malam. Kehidupan Maryam berlangsung terus dalam keadaan seperti itu, tidak ada sesuatupun yang mengeruhkan kejernihan, ketenangan dan kesendiriannya dalam melaksanakan ibadah yang penuh kesungguhan dan ketundukan kepada Allah Swt.  .

Tetapi Nabi Zakaria as menemukan sesuatu yang asing dan aneh terjadi pada diri Maryam. Tiap kali ia masuk mengunjungi mihrab Maryam, ia selalu mendapati Maryam telah memiliki rezeki berupa makanan. Padahal tidak ada orang selain diriya yang masuk ke mihrab Maryam. Dari kejadian ini, Nabi Zakaria yakin bahwa Allah Swt. telah mengkhususkan kedudukan Maryam, dengan kedudukan yang mulia, dan Allah Swt. telah memilihnya dari seluruh wanita yang ada di seluruh alam raya ini. Ketika Nabi Zakaria wafat dan pengurus Maryam diserahkan kepada Yusuf an-Najar. Dan, setiap kali Yusuf hendak mengirimkan makanan kepada Maryam, iapun selalu melihat makanan dari berbagai jenis telah tersedia dalam mihrab Maryam.

Demikianlah kehidupan Maryam, ia senantiasa tenggelam dalam ibadahnya, berpuasa, salat malam, dan senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah Swt.  ..sampai pada suatu saat, Allah Swt. mengutus Jibril dalam bentuk manusia untuk memberikan kabar gembira kepada Maryam..yaitu seorang anak laki-laki yang akan dikandungnya..

Maryam sangat terkejut menerima berita yang disampaikan oleh Jibril, sehingga di abadikan dalam dalam Al Quran, Maryam berkata ; Bagaimana akan ada bagiku seorang anak-laki-laki, sementara tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku, dan aku bukan pula seorang pezina.
Tetapi, semua itu adalah ketetapan Allah Swt.  , dan dalam waktu singkat, Maryam-pun telah mengandung bayi yang telah ditetapkan oleh Allah Swt.  . Ketika menghadapi hal ini, Maryam-pun berdoa  Ini adalah kasih sayang-mu wahai Tuhanku, ampunan-Mu, dan keridhoan-Mu. Engkaulah yang Maha tau apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri-Mu

Tidak ada satupun di hadapan Maryam kecuali satu hal, yaitu sepenuhnya menyerahkan diri, ridho dengan sepenuh hati atas ketetapan yang Allah Swt. ridhoi untuk dirinya. Kejadian ini tentunya membuat Maryam menjadi wanita yang paling hina di antara kaumnya, ia disingkirkan, dan tidak ada satupun dari kaumnya yang mau menolongnya.
Dan ingatlah ketika malaikat Jibril berkata: Hai Maryam, sesungguhnya Allah Swt. telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala perempuan di dunia (yang semasa dengan kamu). (QS. Ali-Imran: 42)
Tentu saja Maryam heran mengapa ia bisa memiliki anak, sementara ia sendiri tidak menikah dan selalu menjaga kesucian dirinya.
Bagaimana aku bisa memiliki seorang anak laki-laki sedangkan aku tidak pernah disentuh oleh seorang manusia (laki-laki) pun dan aku bukan pula seorang wanita pezina. (QS. Maryam: 20)
Ketika Maryam akhirnya hamil tanpa menikah dengan seorang lelaki manapun, ia lalu mengasingkan diri karena malu. Ia tidak kuat menanggung amanah besar ini, tetapi sebagi wanita yang taat kepada Allah Swt. ia pun tetap berusaha menyelamatkan bayi yang dikandungnya ini.
Aduhai alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku mejadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan. (QS. Maryam: 23)
 Sesungguhnya Allah Swt. telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran  melebihi segala umat ( di masa mereka masing-masing). Yaitu suatu keturunan yang sebagiannya merupakan turunan dari yang lain. Dan Allah Swt. mendengar lagi maha mengetahui. (QS. Al-Imran: 33-34)

Kisah Maryam ini mengajarkan kepada kita bahwa ketaatan seorang wanita kepada Allah Swt.  , terutama dalam menjaga kesuciannya, dibalas oleh Allah Swt. dengan karunia yang tidak terkirakan sebelumnya. Namun, karunia itu terkadang tersembunyi dalam sesuatu yang menurut pandangan manusia adalah hal yang terlihat seolah-olah buruk. Maryam telah membuktikan bahwa Cobaan berupa hamil  tanpa nikah dibayar lunas dengan bayi yang meluruskan persepsi keliru kaumnya. Bayi tersebutlah yang akhirnya menjadi rasul pembawa cahaya umat.

Rasulullah Saw. bersabda: Orang yang sempurna dari kalangan laki-laki itu banyak, tetapi tidak ada yang sempurna dari kalangan wanita kecuali Aisyah istri Firaun dan Maryam putri Imran. Sungguh keutamaan Aisyah bila dibanding para wanita selainnya seperti kelebihan tsarid (makanan istimewa berupa daging dicampur roti yang dilumatkan) di atas seluruh makanan. (HR. Bukhari).

Maryam mengajarkan pada wanita zaman sekarang bahwa cobaan hidup adalah konsekuensi ketakwaan dan kemuliaan hidup setelah cobaan tersebut  adalah konsekuensi kesabaran.

Pesan Moral dari Kisah Maryam
Nama Maryam disebut dalam al-Quran sebanyak 34 kali dan terbagi dalam 11 surat Bahkan sebuah surat menggunakan nama Maryam. Perlu dicatat bahwa tidak seorang wanita pun yang disebut namanya dalam al-Quran kecuali beliau. Ini untuk mengisyaratkan bahwa tidak ada wanita lain yang pernah atau akan mengalami seperti apa yang beliau alami (melahirkan anak yang menjadi Nabi tanpa disentuh pria).

Maryam adalah tipe perempuan yang saleh, ibu dari tokoh terkemuka di dunia dan akhirat. Ia menjaga kesucian dirinya, mengisi waktunya dengan pengabdian yang tulus kepada Rabb. Akhirnya, ia memikul amanah untuk mengasuh dan membesarkan kekasih Rabb, Isa putra Maryam. Dan Maryam putra Imran, yang menjaga kesucian kehormatannya. Kami tiupkan ruh kami dan ia membenarkan kalimah Tuhannya dan kitab-kitabNya dan ia termasuk orang yang taat (QS. 66: 16). Maryam adalah tipe perempuan shaleh. Kehormatannya terletak dalam kesucian bukan dalam kecantikan.

Istri yang salihah akan menjaga dirinya dari perbuatan keji dan segala hal yang mengarah ke sana, seperti yang terjadi pada Maryam putra Imran. Sehingga ia tidak keluar rumah kecuali karena darurat, dengan izin suaminya. Kalaupun keluar rumah, ia memperhatikan adab-adab syari. Dia menjaga diri dari bercampur baur apalagi khalwat dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Ia tidak berbicara dengan laki-laki ajnabi (non muhrim) kecuali karena terpaksa. Dan ia tidak melepas pandangannya dengan melihat apa yang diharamkan Allah Swt.  . Ia ingat Bagaimana Allah Swt. memuji Maryam yang sangat menjaga kesucian diri, sehingga ketika dikabarkan oleh Jibril bahwa dia akan mengandung seorang anak yang kelak menjadi rasul pilihan Allah Swt.  , Maryam berkata dengan heran: Bagaimana aku bisa memiliki seorang anak laki-laki sedangkan aku tidak pernah disentuh oleh seorang manusia (laki-laki) pun dan aku bukan pula seorang wanita pezina.
Wanita salihah akan mengingat bagaimana keimanan Maryam kepada Allah Swt. dan bagaimana ketekunannya dalam beribadah, sehingga Allah Swt. memilihnya dan mengutamakannya di atas seluruh wanita. Hal ini dikisahkan ketika malaikat Jibril berkata: Wahai Maryam, sesungguhnya Allah Swt. telah memilihmu, mensucikan dan melebihkanmu di atas segenap wanita di alam ini (yang hidup di masa itu) (Ali Imran:42).

Ibu Nabi Musa a.s


Maryam  misalnya, ia mempunyai peranan yang tidak kecil sebagai seorang ibu yang beriman, jujur dan taat terhadap perintah Tuhannya. Hal itu terbukti ketika ia mematuhi dan memenuhi perintah Tuhannya untuk menghanyutkan Musa ke dalam sungai Nil. Andaikan perempuan tidak mempunyai potensi untuk mewujudkan beban-beban yang diamanatkan oleh Tuhannya, sudah tentu Allah Swt. akan menggariskan realitas sejarah yang lain. Sebenarnya hal itu merupakan bukti yang paling jelas bagi kaum Bani Israil, bahwa perempuan itu sebenarnya mempunyai peranan dan fungsi cukup penting dalam kehidupan. Bahkan dalam beberapa hal, perempuan lebih utama daripada laki-laki. Karenanya, penyebutan istilah ummun (ibu) di dalam Al-Quran dan hadis jauh lebih banyak daripada kata-kata al-ab (ayah/laki-laki).

Sebagaimana Allah Swt. telah memilih jumlah kaum lelaki untuk memegang risalah kenabian dan mukjizat, maka Allah Swt. pun telah memilih sejumlah perempuan untuk memiliki keistimewaan khusus diantaranya adalah Maryam binti Imran. Ia merupakan figur  perempuan teladan yang dikaruniai berbagai keistimewaan dan karamah oleh Allah Swt. Swt. Ia sama dengan kaum lelaki dalam melaksanakan segala macam ibadah, ia merupakan perempuan pilihan.
Surat Maryam yang tertera dalam Al Quran, merupakan bukti bahwa kaum wanita bukanlah kaum yang lemah, kaum tidak dapat dijadikan panutan. Kisah Maryam yang sekaligus merupakan nama surat dalam Al Quran ini, tentunya mengandung banyak sekali hikmah yang bermanfaat bagi manusia

Aisyah istri Firaun


Al-Quran juga merekam satu peristiwa bahwa pada masa Nabi Musa juga muncul seorang perempuan teladan bernama Aisyah binti Muzahim. Ia adalah istri Firaun dan dinilai sebagai perempuan terbaik karena memiliki akhlak luhur, menjadi penghibur duka lara, dan mampu meloloskan diri dari datangnya berbagai kemelut. Hingga ia merupakan rahmat dari Tuhan kepada umat manusia pada masa kekuasaan suaminya, Firaun, penguasa yang diktator, otoriter, zalim dan congkak. Sebagai perempuan teladan ia rela mengangkat Musa sebagai anak yang mesti diasuh dan dididiknya. Firman Allah Swt. menyebutkan : mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita ambil ia menjadi anak. (QS. Al-Qashash: 9).

Asiyah, istri raja Firaun yang dijadikan simbol sebagai seorang istri penyabar, meski telah mendapat perlakuan buruk dari sang suami. Semula Asiyah adalah satu-satunya wanita yang sangat dicintai oleh raja Firaun. Meski Firaun dikenal sebagai raja kejam yang tak segan-segan melakukan pembunuhan terhadap siapa saja yang menentangnya, namun terhadap wanita ini Firaun sepertinya masih ada perasaan bertekuk lututnya.

Kepada wanita ini Firaun rela mempersembahkan apa saja sebagai bukti rasa cintanya, termasuk salah satunya mengangkat Musa sebagai anak angkat atas permintaan Asiyah, yang sebenarnya kelak akan menjadi musuhnya sendiri. Disebutkan bahwa Asiyah memang seorang wanita yang begitu cantik.

Kecantikan wajah yang dimiliki juga diimbangi dengan keluhuran budi yang mulia. Maka tak heran jika Firaun mau menberikan cintanya kepada istrinya itu, konon Firaun membangun sebuah istana kecil di pinggir sungal Nila yang khusus dipersembahkan kepada Asiyah, istri tercintanya.

Di awal-awal kehidupan berumah tangga tentu Asiyah masih bisa merasakan kebahagiaan sebagai istri seorang raja. Namun kebahagian itu tidak bisa dirasakan dalam jangka waktu yang lama. Sejak Firaun mengaku diri sebagai Tuhan, sekaligus memaksa kepada semua rakyatnya untuk menyembahnya, sejak saat itulah tekanan batin mulai dirasakan Asiyah. Paksaan Firaun supaya disembah dan diakui sebagai Tuhan tidak hanya berlaku bagi semua rakyat, namun juga terhadap Asiyah, istri Firaun sendiari. Dalam posisi seperti itu Asiyah tidak bisa berbuat banyak kecuali harus menuruti apa yang dipaksakan suami, meski dalam hati ia berontak.

Asiyah bukanlah tipe wanita yang gampang minta cerai. Ya, wanita ini bukan model istri yang sedikit-sedikit ngambek, hingga gampang memutuskan untuk minta pisah. Asiyah adalah contoh wanita yang begitu sabar menghadapi keburukan sikap dari sang suami. Meski suami terus memperlakukan tidak baik terhadapnya, namun tetap saja ia berusaha untuk sabar dan tabah menghadapi cobaan derita tersebut. Begitu sabar dan tabahnya sikap Asiyah, sampai-sampai ia mau berkorban nyawa menghadapi perlakuan suaminya itu.

Dikisahkan bahwa Asiyah sebenarnya mulai meyakini ajaran agama yang dibawa oleh Musa, anak angkatnya. Sejak Musa bersama Harun berusaha untuk meyadarkan Firaun, diam-diam Asiyah mulai sadar bahwa Tuhan yang sesungguhnya bukanlah suaminya, melainkan Dzat yang menciptakan bumi berserta isinya ini. Dan puncak dari ketabahan Asiyah hingga ia harus menerima siksaan dari Firaun adalah ketika Firaun menerima kekalahaan atas Musa pada saat pertarungan adu kekuatan antara ahli sihir Firaun dengan kekuatan mujizat yang diberikan Allah Swt. kepada Musa.

Ternyata Asiyah yang telah menyaksikan jalannya pertarungan sihir tersebut mendapat hidayah dari Allah Swt. . atas peritiwa itu dan langsung beriman kepada Tuhannya Musa. Bertahun-tahun lamanya ia memendam ketidakpercayaan terhadap suaminya yang mengakui sebagai Tuhan, kini wanita tersebut menjadi sadar bahwa ada Tuhan yang sesungguhnya. Peristiwa yang baru disaksikan adalah sebuah bukti dari kekuasaan Allah Swt.  yang mampu membuka mata batinnya untuk menerima keimanan sebagai pegangan hidup. Seketika itu Asiayah menyatakan diri sebagai muslim bahkan dia juga berani berterus terang kepada Firaun.

Firaun murka dan menjatuhkan hukuman kepadanya. Para algojo diperintahkan Firaun untuk segera melakukan penyiksaan kepada Asiyah, yang olehnya dianggap murtad itu. Tubuh Asiyah ditelantangkan di atas tanah di bawah terik sinar matahari. Kedua tangannya diikat kuat ke tiang-tiang yang dipatok ke tanah agar ia tak dapat bergerak-gerak. Wajahnya yang telanjang di hadapankan langsung ke arah datangnya sinar matahari. Asiyah pastilah tidak akan tahan akan sengatan panas matahari, dan akhirnya ia akan mengubah keimanannya kepadaku, demikian pikir Firaun.

Tetapi, apa yang terjadi? Ternyata Tuhan tidak membiarkan hambanya menderita akibat kekafiran Firaun. Setiap kali para algojo meninggalkan Asiyah dalam hukumannya, segera malaikat menutup sinar matahari itu, sehingga langit menjadi teduh dan Asiyah tak merasakan sengatan matahari yang ganas itu. Asiyah tetap segar-bugar meskipun sudah dihukum berat.

Kemarahan Firaun terhadap Asiyah semakin menjadi-jadi manakala Asiyah tetap tidak mau mengakui Firaun sebagai Tuhan dan lebih memilih mempercayai aqidah yang dibawa Musa dan Harun, walaupun Firaun sudah berusaha membujuknya, bahkan mengancamnya. Dan kemudian Firaun mengutus seseorang untuk datang kepada istrinya itu. Kepada utusan tersebut Firaun berkata, Bawalah sebuah batu yang besar. Jika Asiyah tetap beriman pada Tuhan Musa dan Harun, pukulkan batu besar itu ke kepadanya. Namun jika ia mengubah pendiriannya maka tetaplah ia menjadi istriku.

Maka pada saat utusan tersebut sampai kepada Asiyah, istri Firaun ini sedang mendongakkan kepalanya ke langit. Untuk selanjutnya ia berdoa kepada Allah Swt. . Al quran mengabadikan doa Asiyah tersebut dalam sebuah ayat berikut:
Wahai Tuhan, bangunkanlah untukku sebuah rumah disisi-Mu dalam surga dan selamatkan daku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkan daku dari kaum yang dzalim. (QS. Ath-Tahrim: 11).

Utusan Firaun itu mendekat dan menanyakan perihal keimanan yang dipegang teguh Asiyah. Wanita ini dengan tegarnya menjawab bahwa dia tetap dalam pendiriannya; mengakui bahwa ajaran yang dibawa Musa dan Harun adalah ajaran yang benar. Asiyah menyatakan dengan tegas bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt.   Sesuai dengan perintah Firaun , utusan itupun langsung mengangkat batu besar yang akan dipukulkan ke kepala Asiyah. Namun sebelum batu tersebut mengenai kepalanya, terlebih dahulu Allah Swt.  memerintahkan kepada malaikat Izrail untuk mencabut nyawa wanita mulia ini. Dengan demikian Asiyah selamat dari siksaan pukulan batu yang akan dibenturkan oleh utusan Firaun. baru setelah tubuh Asiyah ambruk tak bernyawa lagi, utusan itu langsung membenturkan batu besar ke kepala Asiyah hingga kepalanya berlumuran darah.

SubhanAllah! Begitu tegar hati Asiyah dalam mempertahankan keimannya. Dia rela menerima kemurkaan suami, bahkan rela menaruhkan nyawanya demi mempertahankan iman dan taqwanya kepada Allah Swt.  Adakah wanita semacam Asiyah di era dimana banyak kaum wanita yang menuntut adanya emansipasi ini?

Entahlah! Yang jelas sungguh sangatlah pantas jika Allah Swt.  mengabadikan kisah kesabaran dan ketabahan Asiyah didalam Al Quran. Bahkan sangat tak berlebihan jika Nabi sendiri menyerukan kepada umat perempuannya untuk banyak banyak belajar kepada wanita yang satu ini.malah Nabi menyatakan dengan tegas bahwa siapapun yang bisa menjalani hidup sabar atas penderitaanya dalam rumah tangga, maka ia akan diberi pahala surga, sebagaimana Asiyah.
Pesan Moral dari Kisah Asiyah (Istri Firaun)

Dalam QS. 66:11, disebutkan bahwa Asiyah istri Fir`aun adalah perumpumaan bagi orang-orang yang beriman. Akibat dari keimanan Asiyah kepada kerasulan Musa, ia harus rela menerima siksaan pedih dari suaminya. Suatu ketika Nabi Musa as. berhasil mengalahkan para tukang sihir Firaun. Asiyah, yang turut menyaksikan kesuksesan Musa, bertambah tebal imannya. Sebenarnya, telah lama Asiyah beriman kepada Allah Swt. , tetapi hal ini tidak diketahui suaminya. Lama-lama Firaun mengetahui juga akan keimanan Asiyah. Firaun marah dan menjatuhkan hukuman pada dirinya. Para algojo diperintahkan untuk segera melakukan penyiksaan kepada Asiyah, yang olehnya dianggap murtad itu. Tubuh Asiyah ditelantangkan di atas tanah di bawah terik sinar matahari. Kedua tangannya diikat kuat ke tiang-tiang yang dipatok ke tanah agar ia tak dapat bergerak-gerak. Wajahnya dihadapkan langsung kea rah datangnya sinar matahari. Pastilah Asiyah tidak akan tahan akan sengatan panas matahari, dan akhirnya ia akan mengubah keimanannya kepadaku, pikir Firaun. Tetapi apa yang terjadi? Ternyata Tuhan tidak membiarkan hambanya menderita akibat kekafiran Firaun. Setiap kali para algojo meninggalkan Asiyah dalam hukumannya, para malaikat segera menutup sinar matahari itu, sehingga langit menjadi teduh dan Asiyah tidak merasakan sengatan matahari yang panas itu. Asiyah tetap segar bugar meskipun sudah dihukum berat.

Dari apa yang dikisahkan dalam Al-Quran dapat kita sebut bahwa Asiyah adalah tipe perempuan pejuang. Ia hidup di bawah suami yang melambangkan kedzaliman. Ia memberontak kepadanya, melawannya dan mempertahankan keyakinannya apapun resiko yang diterimanya. Semuanya ia lakukan karena ia memilih rumah di surga, yang diperoleh dengan perjuangan menegakkan kebenaran, ketimbang istana di dunia, yang dapat dinikmatinya bila ia bekerjasama dengan kedzaliman. Al-Quran tidak menyebut namanya. Hadis menyebutnya Asiyah binti Mazahim Dan Allah Swt.  menjadikan teladan bagi orang-orang yang beriman perempuan Firaun, ketika ia berdoaa: Ya Rabbi, bangunkan bagiku rumah di surge. Selamatkan aku dari kaum yang dzalim.

Seorang istri yang salihah, ia akan bersabar dengan kekurangan yang ada pada suaminya dan sabar dengan kesulitan hidup bersama suaminya. Tidaklah ia mudah berkeluh kesah di hadapan suaminya atau mengeluhkan  suaminya kepada orang lain, apalagi menceritakan aib, cacat dan kekurangan sang suami. Bagaimanapun kekurangan suaminya dan kesempitan hidup bersamanya, ia tetap bersyukur di sela-sela kekurangan dan kesempitan tersebut, karena Allah Swt. memilihkan lelaki muslim yang beriman kepada Allah Swt.  dan hari akhir sebagai pendamping hidupnya. Dan tidak memberinya suami seperti suami Asiyah bintu Muzahim yang sangat kafir kepada Allah Swt. dan berbuat aniaya terhadap istri karena ia beriman kepada Allah Swt. dan RasulNya. Seperti telah dikisahkan dalam bab sebelumnya, bahwa ketika Firaun, suami Asiyah, mengetahui keimanan istrinya, ia keluar menemui kaumnya lalu bertanya: Apa yang kalian ketahui tentang Asiyah bintu Muzahim? Mereka memujinya. Sedangkan Firaun berkata: Ia menyembah Tuhan selain aku. Mereka berkata: kalau begitu bunuhlah dia. Maka firaun membuat pasak-pasak untuk istrinya, kemudian mengikat kedua tangan dan kedua kaki istrinya, kemudian menyiksanya di bawah terik matahari. Jika Firaun berlalu darinya, para Malaikat menanungi Asiyah dengan sayap-sayap mereka. Asiyah berdoa: Wahai Rabbku, bangunkanlah untukku disisiMu sebuah rumah di dalam surge. Allah Swt. mengabulkan doa Asiyah dengan membangunkan sebuah rumah di surge untuknya. Dan rumah itu diperlihatkan kepada Asiyah, maka ia pun tertawa. Bertepatan dengan itu Firaun datang, melihat Asiyah tertawa, dia heran. Tidaklah kalian heran dengan kegilaan Asiyah? Kita siksa dia malah tertawa.

Menghadapi beratnya siksaan Firaun hati Asiyah tidak lari untuk berharap belas kasih dan pertolongan dari Penguasa Makhluk. Ia berdoa agar diselamatkan dari siksaan yang ditimpsksn Firaun dan kaumnya serta tidak lupa memohon agar diselamatkan dari melakukan kekufuran sebagimana yang diperbuat Firaun dan kaumnya.

Khadijah Istri Rasulullah Saw.


Khadijah dilahirkan pada tahun 68 sebelum Hijriyah, di sebuah keluarga yang mulia dan terhormat. Dia tumbuh dalam suasana yang dipenuhi dengan perilaku terpuji. Ulet, cerdas dan penyayang merupakan karakter khusus kepribadiannya. Sehingga masyarakat di zaman Jahiliyah menjulukinya sebagai At-Thahirah (seorang wanita yang suci).

Selain itu, Khadijah juga berprofesi sebagai pedagang yang mempunyai modal sehingga bisa mengupah orang untuk menjalankan usahanya. Kemudian Khadijah akan membagi keuntungan dari perolehan usaha tersebut. Rombongan dagang miliknya juga seperti umumnya rombongan dagang kaum Quraisy lainnya.

Lalu, suatu saat dia mendengar tentang Rasulullah SAW, sesuatu yang menarik perhatian Khadijah tentang kejujuran, amanah, dan kemuliaan akhlak beliau.

Pada saat itu, Abu Thalib berkata pada keponakannya, Muhammad SAW, Aku adalah orang yang tidak mempunyai harta sedangkan kebutuhan zaman semakin hari semakin mendesak. Umur telah kita lalui dengan sia-sia tanpa ada harta dan perniagaan. Lihatlah Khadijah, dia mampu mengutus beberapa orang untuk menjalankan niaganya, sehingga mereka mendapatkan hasil dari barang yang diniagakan. Andai engkau datang kepadanya (untuk menjalankan niaganya) dengan keutamaanmu dibandingkan yang lainnya, tentu tidak akan ada yang menyaingimu, terutama sekali dengan kesucianmu.

Kemudian Khadijah memberikan pekerjaan kepada Rasulullah agar menjalankan barang dagangannya ke negeri Syam dengan ditemani anak bernama Maisarah. Beliau diberi modal yang cukup besar dibandingkan lainnya. Rasulullah menerima pekerjaan tersebut dan disertai Maisarah menuju kota Syam.

Khadijah menyiapkan sebuah rumah yang nyaman bagi Nabi SAW sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika merenung di Gua Hira'. Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepadanya ketika Nabi SAW berdoa (memohon) kepada Tuhannya. Khadijah adalah sebaik-baik wanita yang menolongnya dengan jiwa, harta dan keluarga. Peri hidupnya harum, kehidupannya penuh dengan kebajikan dan jiwanya sarat dengan kebaikan.
Rasulullah SAW bersabda :"Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa."

Kenapa kita bersusah payah mencari teladan di sana-sini, pada- hal di hadapan kita ada "wanita terbaik di dunia," Khadijah binti Khu- wailid, Ummul Mu'minin yang setia dan taat, yang bergaul secara baik dengan suami dan membantunya di waktu berkhalwat sebelum diangkat men- jadi Nabi dan meneguhkan serta membenarkannya.

Khadijah mendahului semua orang dalam beriman kepada risalahnya, dan membantu beliau serta kaum Muslimin dengan jiwa, harta dan keluarga. Maka Allah SWT membalas jasanya terhadap agama dan Nabi-Nya dengan se- baik-baik balasan dan memberinya kesenangan dan kenikmatan di dalam is- tananya, sebagaimana yang diceritakan Nabi SAW, kepadanya pada masa hi- dupnya.
Sayidah Khadijah r.a. adalah wanita pertama yang bergabung dengan rombongan orang Mu'min yang orang pertama yang beriman kepada Allah di bumi sesudah Nabi SAW. Khadijah r.a. membawa panji bersama Rasulullah SAW sejak saat pertama, berjihad dan bekerja keras. Dia habiskan kekayaannya dan memusuhi kaumnya. Dia berdiri di belakang suami dan Nabinya hingga nafas terakhir, dan patut menjadi teladan tertinggi bagi para wanita.

Betapa tidak, karena Khadijah r.a. adalah pendukung Nabi SAW sejak awal kenabian. Ar-Ruuhul Amiin telah turun kepadanya pertama kali di sebuah gua di dalam gunung, lalu menyuruhnya membaca ayat- ayat Kitab yang mulia, sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Kemudian dia menampakkan diri di jalannya, antara langit dan bumi. Dia tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri sehingga Nabi SAW melihatnya, lalu dia berhenti, tidak maju dan tidak mundur. Semua itu terjadi ketika Nabi SAW berada di antara jalan-jalan gunung dalam keadaan kesepian, tiada penghibur, teman, pembantu maupun penolong.

Nabi SAW tetap dalam sikap yang demikian itu hingga malaikat meninggalkannya. Kemudian, beliau pergi kepada Khadijah dalam keadaan takut akibat yang didengar dan dilihatnya. Ketika melihatnya, Khadijah berkata :"Dari mana engkau, wahai, Abal Qasim ? Demi Allah, aku telah mengirim beberapa utusan untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekkah, kemudian kembali kepadaku." Maka Rasulullah SAW menceritakan kisahnya kepada Khadijah r.a.

Saat menerima risalah kenabian, Khadijah merupakan orang pertama yang percaya kepada Allah dan
Rasul beserta ajaran-ajaran-Nya. Nabi Muhammad pun tidak menghiraukan berbagai ancaman dan propaganda yang datangnya dari kaum musyrikin. Karena disampingnya terdapat sang kekasih pilihan Allah yang dengan setia mendampingi dan memperkuat aktifitas dakwahnya, sehingga terasa ringan beban yang diemban dan ringan pula menghadapi cobaan apa pun yang dilakukan oleh kaumnya.

Setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Rasulullah kembali ke rumah dengan perasaan takut seraya berkata kepada Khadijah, Selimuti aku! Selimuti aku! Maka Khadijah menyelimutinya hingga hilang perasaan takutnya itu. Beliau menceritakan semua yang telah terjadi. Aku khawatir pada diriku, kata Rasulullah.

Khadijah menjawab, Tidak perlu khawatir, Allah tidak akan pernah menghinakanmu, sesungguhnya engkau orang yang menjaga tali silaturrahmi, senantiasa mengemban amanah, berusaha memperoleh sesuatu yang tiada, selalu menghormati tamu dan membantu orang-orang yang berhak untuk dibantu.

Khadijah r.a. berkata :"Gembiralah dan teguhlah, wahai, putera pamanku. Demi Allah yang menguasai nyawaku, sungguh aku berharap engkau menjadi Nabi umat ini." Nabi SAW tidak mendapatkan darinya, kecuali peneguhan bagi hatinya, penggembiraan bagi dirinya dan dukungan bagi urusannya. Nabi SAW tidak pernah mendapatkan darinya sesuatu yang menyedihkan, baik berupa penolakan, pendustaan, ejekan terhadapnya atau penghindaran darinya. Akan tetapi Khadijah melapangkan dadanya, melenyapkan kesedihan, mendinginkan hati dan meringankan urusannya. Demikian hendaknya wanita ideal.

Khadijah mengajak suaminya menemui Waraqah bin Naufal, sepupunya yang memeluk agama Nasrani di zaman Jahiliyah dan menulis buku Injil dengan bahasa Ibrani. Dengarkan sepupuku, kata-kata dari keponakanmu ini! kata Khadijah.

Wahai keponakanku, apa yang engkau lihat? tanya Waraqah pada Muhammad SAW. Rasulullah menceritakan tentang apa yang telah dilihatnya.

Waraqah berkata, Ini adalah Malaikat yang telah Allah turunkan kepada Nabi Musa. Andai aku dapat bertahan, aku berharap masih hidup ketika kaummu mengusirmu.

Rasulullah bertanya, Kenapa mereka mengusirku? Tidak seorang pun yang datang dengan sesuatu sebagaimana yang kau emban ini kecuali dimusuhi oleh kaumnya. Jika aku masih hidup sampai pada harimu, tentu aku akan menolongmu dengan sungguh-sungguh, jawabnya.

Itulah dia, Khadijah r.a., yang Allah SWT telah mengirim salam kepadanya. Maka turunlah Jibril A.S. menyampaikan salam itu kepada Rasul SAW seraya berkata kepadanya :"Sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhannya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda :"Wahai Khadijah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu." Maka Khadijah r.a. menjawab :"Allah yang menurunkan salam (kesejahteraan), dari-Nya berasal salam (kesejahteraan), dan kepada Jibril semoga diberikan salam (kesejahteraan)."

Sesungguhnya ia adalah kedudukan yang tidak diperoleh seorang pun di antara para shahabat yang terdahulu dan pertama masuk Islam serta khulafaur rasyidin. Hal itu disebabkan sikap Khadijah r.a. pada saat pertama lebih agung dan lebih besar daripada semua sikap yang mendukung da'wah itu sesudahnya. Sesungguhnya Khadijah r.a. merupakan nikmat Allah yang besar bagi Rasulullah SAW. Khadijah mendampingi Nabi SAW selama seperempat abad, berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolong- nya di waktu-waktu yang sulit, membantunya dalam menyampaikan risalahnya, ikut serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad dan menolong- nya dengan jiwa dan hartanya.

Rasulullah SAW bersabda :"Khadijah beriman kepadaku ketika orang- orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan. Dan dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selain dia." [HR. Imam Ahmad dalam "Musnad"-nya, 6/118]

Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Pada suatu malam setelah salat Isya saya keluar bersama Rasulullah s.a.w. Tiba-tiba di hadapanku ada seorang wanita bercadar yang sedang berdiri di tengah jalan, seraya berkata, "Wahai Abu Hurairah! Sesungguhnya aku telah melakukan perbuatan dosa besar. Apakah masih ada kesempatan bagiku untuk bertaubat?" Lalu saya tanya wanita itu, "Apakah dosamu itu?" Dia menjawab, "Aku telah berzina dan membunuh anakku dari hasil zina itu." Kukatakan padanya, "Kau telah binasakan dirimu dan telah binasakan orang lain. Demi Allah, tidak ada kesempatan bertaubat bagimu." Mendengar jawapanku, wanitu itu menjerit histeris dan jatuh pingsan. Setelah siuman dia pun lantas pergi. Aku berkata di dalam hati, "Aku berfatwa, padahal Rasulullah s.a.w. ada ditengah-tengah kami?"   Pada pagi harinya aku menemui Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah! Tadi malam ada seorang wanita meminta fatwa kepadaku berkenaan dengan ini. dan ini." Setelah mendengar penjelasan aku, beliau bersabda, "Innaa lillahi wa inna ilahi raajiun! Demi Allah, celakalah engkau dan telah mencelakakan orang lain. Tidakkah kau ingat ayat ini :   "Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal soleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Furqaan: 68-70)   Maka aku keluar dari sisi Rasulullah s.a.w. dan berlari menyusuri gang-gang jalan Madinah, sambil bertanya-tanya, "Siapakah yang boleh menunjukkan aku kepada seorang wanita yang meminta fatwa kepadaku tentang begini dan begini tadi malam?" Sementara anak-anak bersorak, "Abu Hurairah sudah gila!" Hingga menjelang larut malam, baru aku menemukannya di tempat itu. Maka kuberitahukan segera kepada wanita itu seperti apa yang dikatakan Rasulullah s.a.w. bahawa dia boleh bertaubat. Wanita itu kembali menjerit kegirangan seraya berkata, "Kebun yang kumiliki akan kusedekahkan kepada orang-orang miskin kerana dosaku."

Khadijah, seorang tangan kanan Rasulullah yang senantiasa membantu beliau dalam menjalankan dakwah dan menyebarkan ajaran-ajarannya, meninggal pada tahun ke-3 sebelum Hijrah di kota Makkah pada usia 65 tahun. Di saat ajal menjemputnya, Rasulullah menghampiri Khadijah sembari berkata, Engkau pasti tidak menyukai apa yang aku lihat saat ini, sedangkan Allah telah menjadikan dalam sesuatu yang tidak engkau kehendaki itu sebagai kebaikan.

Beberapa hari setelah pemboikotan, Abu Thalib jatuh sakit, dan semua orang meyakini bahwa sakit kali mi merupakan akhir dan hidupnva. Dalam keadaan seperti itu, Abu Sufjan dan Abu Jahal membujuk Abu Thalib untuk menasehati Muhammad agar menghentikan dakwahnya, dan sebagai gantinya adalah harta dan pangkat. Akan tetapi, Abu Thalib tidak bersedia, dan dia mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam tidak akan bersedia menukar dakwahnya dengan pangkat dan harta sepenuh dunia.

Abu Thalib meninggal pada tahun itu pula, maka tahun itu disebut sebagai Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Sebaliknya, orang-orang Quraisy sangat gembira atas kematian Abu Thalib itu, karena mereka akan lebih leluasa mengintimidasi Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dan pengikutnya. Pada saat kritis menjelang kematian pamannya, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. membisikkan sesuatu, Secepat ini aku kehilangan engkau?

Pada tahun yang sama, Sayyidah Khadijah sakit keras akibat beberapa tahun menderita kelaparan dan kehausan karena pemboikotan itu. Semakin hari, kondisi badannya semakin menurun, sehingga Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. semakin sedih. Bersama Khadijahlah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. membangun kehidupan rumah tangga yang bahagia. Dalam sakit yang tidak terlalu lama, dalam usia enam puluh lima tahun, Khadijah meninggal, menyusul Abu Thalib. Khadijah dikuburkan di dataran tinggi Mekah, yang dikenal dengan sebutan al-Hajun. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sendiri yang mengurus jenazah istrinya, dan kalimat terakhir yang beliau ucapkan ketika melepas kepergiannya adalah: Sebaik-baik wanita penghuni surga adalab Maryam binti Imran dan Khadijah binti Khuwailid.

Khadijah meninggal setelah mendapatkan kemuliaan yang tidak pernah dimiliki oleh wanita lain, Dia adalah Ummul Mukminin istri Rasulullah yang pertama, wanita pertama yang mernpercayai risalah Rasulullah, dan wanita pertama yang melahirkan putra-putri Rasulullah. Dia merelakan harta benda yang dimilikinya untuk kepentingan jihad di jalan Allah. Dialah orang pertama yang mendapat kabar gembira bahwa dirinya adalah ahli surga. Kenangan terhadap Khadijah senantiasa lekat dalam hati Rasulullah sampai beliau wafat. Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah Khadijah binti Khuwailid dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Saat pemakamannya, Rasulullah turun ke liang lahat dan dengan tangannya sendiri memasukkan jenazah Khadijah. Wafatnya Khadijah merupakan musibah besar, di mana setelahnya diikuti berbagai musibah dan peristiwa yang datangnya secara beruntun. Rasulullah SAW memikul beban dengan penuh ketabahan dan kesabaran demi mencapai ridha Allah SWT.

Bahkan walau Khadijah telah tiada, Rasulullah selalu menyebut-nyebutnya dalam setiap kesempatan, dan tidak bosan-bosan memujinya. Sehingga Aisyah, Ummul Mukminin, merasa cemburu. Sampai suatu saat, Aisyah berkata pada Rasulullah, Allah telah mengganti wanita tua itu.

Tentu saja Rasulullah tersinggung dengan ucapan Aisyah ini, hingga ia berkata pada dirinya, Ya Allah, hilangkanlah perasaan marah Rasulullah terhadapku dan aku berjanji untuk tidak lagi menjelek-jelekkan Khajidah.

Aisyah pernah berkata, Aku tidak pernah cemburu kepada istri-istri Rasulullah kecuali pada Khadijah. Walaupun aku tidak pernah melihatnya, akan tetapi Rasulullah sering menyebutnya setiap saat. Ketika beliau memotong kambing, tak lupa beliau sisihkan dari sebagian daging tersebut untuk kerabat-kerabat Khadijah. Ketika aku katakan, seakan-akan tidak ada wanita di dunia ini selain Khadijah. Beliau berkata, sesungguhnya dia telah tiada dan dari rahimnya aku dapat keturunan.

Aisyah berkata, Dulu Rasulullah SAW setiap keluar rumah, hampir selalu menyebut Khadijah dan memujinya. Pernah suatu hari beliau menyebutnya sehingga aku merasa cemburu. Aku berkata, Apakah tiada orang lagi selain wanita tua itu. Bukankah Allah telah menggantikannya dengan yang lebih baik? Lalu, Rasulullah marah hingga bergetar rambut depannya karena amarah dan berkata, Tidak, demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik darinya. Dia percaya padaku di saat semua orang ingkar, dan membenarkanku di kala orang-orang mendustakanku, menghiburku dengan hartanya ketika manusia telah mengharamkan harta untukku. Dan Allah telah mengaruniaiku dari rahimnya beberapa anak di saat istri-istriku tidak membuahkan keturunan. Kemudian Aisyah berkata, Aku bergumam pada diriku bahwa aku tidak akan menjelek-jelekannya lagi selamanya.

Siti Sarah


Sarah adalah wanita cantik yang pertama kali beriman kepada dakwah Nabi Ibrahim a.s. Allah Swt.  Swt menjaga Sarah, istri Ibrahim, ketika seorang thaghut akan menodai kesuciannya dan merampas kehormatannya. Keteguhan imannya dan ketaatannya kepada suaminya diuji ketika itu. Al-Bukhari meriwayatkan dalam sahihnya dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda; Ibrahim berhijrah bersama Sarah. Keduanya masuk ke sebuah desa yang terdapat seorang raja yang sombong. Dikatakan kepadanya, Ibrahim datang bersama dengan seorang wanita yang sangat cantik. Maka dia bertanya kepada Ibrahim, Wahai Ibrahim, siapa wanita yang bersamamu? Ibrahim menjawab, saudara perempuanku. Kemudian Ibrahim kembali kepada Sarah dan berkata, jangan mendustakan ucapanku aku telah mengatakan kepada mereka  kalau kamu adalah saudaraku.

Awal pertemuan Nabi Ibrahim a.s. dengan Sarah, ketika itu Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Luth a.s. pergi ke wilayah Syam. Mereka bertemu dengan paman Nabi Ibrahim. la memiliki seorang putri yang sangat cantik bernama Sarah. Ibrahim a.s. pun berkata, "Belum ada wanita cantik yang memiliki kecantikan seperti Hawa hingga saat ini selain Sarah."

Perkataan Ibrahim a.s. tersebut bukan saja melihat kecantikan Sarah secara lahiriah, melainkan juga kesalehan yang tampak pada diri Sarah. Akhirnya, Ibrahim a.s. pun menikahinya dan mereka menjalani kehidupan rumah tangga dengan harmonis.

Ujian pernikahan mereka berawal ketika Ibrahim a.s. dan Sarah  hijrah ke Mesir. Saat itu Mesir dipimpin oleh seorang raja kafir yang suka berfoya-foya dan zalim. Raja itu bernama 'Amr bin Amru' Al-Qais bin Mailun.

Setiap mendengar ada wanita cantik, ia selalu ingin memilikinya. Jika wanita itu telah memiliki suami, ia akan memaksa suaminya untuk menceraikan istrinya. Jika wanita itu adalah saudara dari seseorang yang dikenalnya, akan ia tinggalkan.

Kedatangan Ibrahim a.s. dan istrinya yang sangat cantik diketahui oleh pengawal kerajaan. Pengawal itu langsung memberitahukan perihal tersebut kepada rajanya. Ia berkata, "Ibrahim datang bersama seorang wanita yang sangat cantik."

Hasrat sang raja tiba-tiba menggebu dan menyuruh pengawalnya untuk memanggil mereka berdua. Ibrahim pun datang menemui raja yang zalim itu. Di hadapan Ibrahim a.s., raja zalim itu bertanya, "Siapakah wanita yang bersamamu itu?" Ibrahim a.s. menjawab, "Saudariku."  Lalu, berbisik kepada istrinya, "Jangan kau katakan bahwa kau adalah istriku agar kau selamat. Katakanlah kau adalah saudariku. Demi Allah Swt.  di bumi ini hanya kita berdua yang mukmin!"

Ketika Sarah melihat raja hendak mendekatinya, ia berdoa, "Ya Allah Swt.  , sesungguhnya aku beriman kepada-Mu dan rasul-Mu serta aku selalu memelihara kehormatanku. Janganlah Engkau biarkan orang itu merusak kesucianku!" pintanya kepada Allah Swt.

Tiba-tiba raja itu merasa tercekik dan menghentak-hentakkan kakinya. Sarah terkejut dan kembali berdoa, "Ya Allah Swt.  Andaikan raja ini mati, tentu orang-orang akan menuduh bahwa aku yang membunuhnya!"

Setelah berdoa, raja itu kembali sehat seperti biasa. Namun, raja itu tetap berjalan mendekatinya. Sarah kembali berdoa, "Ya Allah Swt.   Sesungguhnya aku beriman kepada-Mu dan rasul-Mu serta aku selalu memelihara kehormatanku. Janganlah Engkau biarkan orang itu merusak kesucianku!"

Kejadian tadi terulang lagi. Raja merasa tercekik dan menghentak-hentakkan kakinya. Sarah berdoa lagi, "Ya Allah Swt.  Andaikan raja ini mati, tentu orang-orang akan menuduh bahwa aku yang membunuhnya!" Raja itu kembali sembuh, tetapi kali ini ia merasa ketakutan. Kemudian ia berkata kepada pengawalnya, "Pasti setan yang kau kirim kepadaku. Kembalikanlah ia kepada Ibrahim dan beri seorang hamba sahaya!"

Hamba sahaya itu adalah Siti Hajar, seorang budak hitam, tetapi kecantikannya tampak terpancar di wajahnya. Ia cerdas, beraklak mulia, dan bermental kuat. Kelak ia dinikahi oleh Ibrahim a.s. dan melahirkan seorang nabi mulia bernama Ismail a.s.

Sunday, October 23, 2016

Siti Hawa


Siti Hawa adalah wanita pertama yang Allah Swt.  ciptakan untuk menemani Adam a.s. Beliau adalah wanita pertama yang mampu mengemban amanah memberikan ketentraman bagi  suaminya. Adam a.s. diberi tempat oleh Allah Swt.  di surga dan diciptakan baginya Hawa untuk mendampinginya menjadi teman hidup, menghilangkan rasa kesepian dan melengkapi fitrahnya untuk menghasilkan keturunan.

Ketika Nabi Adam sedang tidur Allah Swt.  telah memerintahkan kepada para malaikat agar mengeluarkan tulang rusuk Adam yang kiri tanpa merasa sakit.Kemudian Allah Swt.  telah menciptakan Siti Hawa.Hawa sangat cantik dan menawan. Allah Swt.  telah meletakkan dalam dirinya kesucian dan budi pekerti yang baik.Pernikahan antara Adam dan Hawa terjadi di syurga.Maharnya ialah tahlil dan tasbih kepada Allah Swt.  Setelah itu Allah Swt.  membangungkan Adam as. dari tidurnya, sambil dilihatkan Siti Hawa kepadanya. Adam as. bertanya: Siapakah Engkau? Siti Hawa menjawab Aku diciptakan Allah Swt.  untuk dirimu. Adam berkata: Dekatlah engkau kepadaku. Siti Hawa menjawab: Sebaiknya engkaulah yang mendekati aku. Adam lalu berdiri dan pergi menemui Siti Hawa. Semenjak itulah menjadi kebiasan bagi umat manusia sebagai keturunan Adam. pihak lelaki menemui atau meminang wanita.

Di saat Adam as. mendekati Siti Hawa, beliau ingin memegang Siti Hawa, tiba tiba terdengar suara: Wahai Adam, bersabarlah!, sebab pergaulanmu dengan Hawa tidak dihalalkan kecuali dengan mahar dan nikah. Kemudian Allah Swt. memerintahkan kepada seluruh penghuni Syurga, menghiasi Syurga dengan seindah indahnya. Setelah itu Allah Swt.  memerintahkan kepada semua Malaikat di langit berkumpul di bawah pohon bernama Thuubaa. Semua malaikat pun berkumpul di sana.
Kemudian Allah Swt.  berkhutbah: Alhamdulillah pujian untuk-Ku, dan keagungan adalah selimut-Ku, kesombongan adalah selendang-Ku, seluruh makhluk adalah hamba hamba-Ku. Aku menjadikan malaikat malaikat dan penghuni langit-Ku sebagai saksi. Aku kahwinkan Hawa dengan Adam dengan mas kahwin dan tasbih serta tahlil atas-Ku.

Kemudian pelayan pelayan Syurga dan para malaikat menaburkan mutiara dan delima, lalu Siti Hawa mereka serahkan kepada Adam as. Siti Hawa meminta maskahwinnya daripada Adam. Maka Adam as. berkata: Ya Allah Swt.  apakah yang harus aku berikan kepadanya, emas, perak atau permata?       berfirman: Bukan Wahai Adam as.

Adam bertanya lagi: Apakah aku harus berpuasa, solat atau mengucapkan tasbih untuk-Mu? Allah Swt.  berfirman: Bukan wahai Adam. Adam bertanya lagi: Ya Allah Swt.  Saw. Swt., apakah yang harus aku lakukan? Swt. berfirman: Mas kahwin Siti Hawa iaitu engkau membaca selawat sepuluh kali untuk Nabi dan kekasih-Ku Muhammad penghulu seluruh Rasul.

Allah Swt.  berfirman kepada Adam as.: Berilah selawat kepada Muhammad supaya Aku halalkan Hawa bagimu. Kepada umat Muhammad Allah Swt.  berfirman: Shollu Alaihi Wasallimu berilah selawat dan salam untuknya. Berilah selawat kepada Muhammad, agar Aku haramkan neraka bagi kamu, dan berilah salam kepadanya, agar Aku halalkan Syurga untuk kamu.

Adalah iblis yang tidak senang dengan hal tersebut mulai menganggu Adam dan Hawa yang hidup di surga. Segala cara dan kata-kata halus digunakan untuk membuat Adam dan Hawa agar memakan buah dari pohon terlarang. Bujukan itu terus menerus diberikan kepada Adam dan Hawa sehingga akhirnya mereka terbujuk dan memakan buah dari  pohon larangan tersebut. Mereka akhirnya melanggar ketentuan Allah Swt. , sehingga mereka diturunkan ke bumi. Allah Swt.  berfirman, Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan  di bumi sampai waktu yang ditentukan. (QS Al Baqarah: 36)

Mendengar firman Allah Swt.  tersebut, Adam dan Hawa sadar bahwa mereka telah terbujuk rayuan setan. Mereka mendapat dosa besar dan bertobat. Allah Swt.  menerima tobat mereka dan berfirman: Turunlah kamu dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak akan kekhawatiran atas mereka dan tidak pula bersedih hati (QS Al Baqarah: 38)

Ketika Adam as. dan Hawa dihukum dengan diturunkan ke bumi diceritakan oleh  Ibnu Abbas, yakni:  Adam, Hawa, Iblis dan ular. Mereka turun ke bumi di sebuah daerah yang diberi nama Dujjana, yang terletak antara Mekah dan Thaif. Ada juga yang berpendapat Adam turun di Shafa, sementara Hawa di Marwah. Telah disebutkan dari Ibnu Abbas juga bahwa Adam turun di tanah India. Diriwayatkan Ibnu Saad dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas, dia mengatakan: Adam diturunkan di India. Sementara Hawa di Jeddah. Kemudian Adam pergi mencari Hawa sehingga dia mendatangi Jaman (yaitu Muzdalifah atau Al-Masyar). Kemudian disusul (izdafalat) oleh Hawa. Oleh karena itu, tempat tersebut disebut Mudzalifah.

Diriwayatkan pula olehThabrani dan Nuaim di dalam kitab Al-Hilyah. Serta Ibnu Asakir  dari Abu Hurairah dia bercerita, Rasulullah Saw. bersabda: Adam turun di India. Ibnu Asakir menyebutkan ketika Adam turun ke bumi dia turun di India. Di dalam riwayat Thabrani dari Abdullah bin Umar disebutkan, Ketika Allah Swt.  menurunkan Adam, Dia menurunkannya di tanah India. Kemudian dia mendatangi Mekah, untuk kemudian pergi menuju Syam (Syria) dan meninggal di sana (HR. Thabrani).

Dari  riwayat-riwayat secara global disebutkan bahwa Adam turun ke bumi di India (semenanjung Syrindib, Ceylan) di atas gunung yang bernama Baudza. Di dalam kitab Rihlahnya, Ibnu Bathutah mengatakan: Sejak sampai di semenanjung ini, tujuanku tidak lain, kecuali mengunjungi Al-Qadam al-Karimah. Adam datang ketika mereka tengah berada di semenanjung Ceylan .

Wanita sholihah dalam Al-Quran


Allah Swt.  telah memberikan sebuah definisi wanita sholihah yang menjadi perhiasan dan kesenangan terbaik di dunia, sebagaimana dalam firman-Nya:
 Maka wanita yang sholih, ialah yang taat kepada Allah Swt.  lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah Swt.  telah memelihara (mereka)  (QS. an-Nisa:34)
Rasulullah Saw. juga memberikan gambaran wanita sholihah terbaik sebagaimana dalam hadis:
Dari Abu Hurairah r.a berkata: Nabi Saw. ditanya:Siapakah wanita yang paling baik? Beliau menjawab: (Sebaik-baik wanita) adalah yang menyenangkan (suami)-nya jika ia melihatnya, mentaati (suami)-nya jika ia memerintahnya dan ia tidak menyelisihi (suami)-nya dalam hal yang dibenci suami pada dirinya dan harta suaminya. (HR. Ahmad, al Hakim, an Nasai dan ath Thobrani dan di Shohihkan oleh al Albani).

Beliau Saw. juga berwasiat untuk memilih wanita yang memiliki dien (agama) yang baik sebagai ukuran keshohihan seorang wanita, bukan kecantikan, kedudukan atau hartanya.
Dari Abu Hurairah r.avdari Nabi Saw. beliau bersabda: Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, kecantikannya dan karena dien (agama)-nya; maka pilihlah yang memiliki dien maka engkau akan beruntung. (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi saw. dalam hadis shahih mengabarkan sebagian ciri perempuan shalihah adalah   wanita manakah yang paling baik? Beliau menjawab: yaitu wanita yang membahagiakan (menyenangkan) suaminya jika memandangnya, mentaati suaminya jika suami memerintahnya, dan tidak menyalahi (mengkhianati) suaminya dalam hal yang tidak disukai suaminya berkenaan dengan dirinya dan harta suaminya.

Wanita yang solehah, adalah yang menjaga akidahnya dan kehormatan dirinya dengan cara taat pada hukum Allah Swt. Misalnya ia menutup aurat dengan kerudung dan jilbab, menjaga pergaulan dari lawan jenis, dan jika menikah ia akan sayang dan menghormati suaminya.

Siti Hawa
Siti Sarah
Siti Hajar
Khadidjah Istri Nabi Muhammad SAW
Aisyah Istri Firaun
Ibu Nabi Musa a.s
Siti Maryam
Ratu Balqis
Aisyah Istri Nabi Muhammad SAW


Adab Wanita Keluar Rumah




Allah Swt.  Yang Maha Mengetahui tentang maslahat (kebaikan) hambanya di dunia maupun diakhirat yaitu kewajiban wanita untuk tetap tinggal di rumah. Namun bila ada kepentingan, diperbolehkan baginya keluar rumah untuk memenuhi kebutuhannya. Rasulullah Saw. bersabda:
 Allah Swt.  telah mengijinkan kalian untuk keluar rumah guna menunaikan hajat kalian. (Muttafaqun alahi)
Namun juga ingat petuah Rasulullah Saw. yang lainnya:
Wanita itu adalah aurat maka bila ia keluar rumah syaithan menyambutnya. (HR. At Tirmidzi, shahih lihat Al Irwa no. 273 dan Shahihul Musnad 2/36)
Aturan-aturan atau adab-adab itu antara lain adab bagi seorang wanita ketika harus bepergian keluar rumah:

1) Ikhlaskan niat:

Wanita yang ingin keluar dari rumah hendaklah ia mengikhlaskan niatnya karena Allah Swt.  dan berniat ingin melakukan hal-hal yang baik, sesuai dengan adab-adab yang telah diajarkan dalam Islam. Tidak sekali-kali berniat keluar rumah dengan bertujuan untuk bersenang-senang dan berfoya-foya, ingin pamer, riya dan sebagainya.

Ia juga wajib menjaga perilaku dan akhlaknya ketika berada di luar rumah untuk menghindari timbulnya fitnah terhadap dirinya sendiri.

2) Memakai pakaian yang baik dan sopan:

Memilih pakaian yang baik dan sopan ketika keluar rumah adalah diwajibkan dalam agama kita untuk menjaga agar wanita itu terhindar dari fitnah dan gangguan-gangguan. Pakaian tersebut hendaklah tidak berlawanan dengan syariat Islam yang telah ditetapkan. Pakaian yang baik dan sopan ini yaitu:

a) Memakai Jilbab:

Islam telah memerintahkan kaum wanita untuk memakai jilbab dan sama sekali melarang wanita-wanita untuk mengumbar aurotnya di hadapan orang kebanyakan. Perintah dan larangan Allah Swt.  telah jelas agar para wanita menutupi aurotnya (termasuk rambutnya).

Firman Allah Swt.  : "Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah Swt.  adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al Ahzab : 59)

Sangat disayangkan sekali bahwa banyak perempuan muslim saat ini yang lebih mementingkan menunjukkan mahkota kepalanya daripada memelihara mahkota keimanan mereka dengan tidak memakai jilbab dan malah mengumbar aurot mereka kepada siapa saja yang melihatnya.

Apakah iman dan Islam itu hanya digunakan sewaktu ibadah semata seperti nikah, kematian dan urusan agama yang lain, dan apakah memadai dengan hanya salat 5 waktu yang kita dirikan sehari semalam itu dapat memelihara diri kita daripada siksaan api nerakaNya gara-gara mengumbar aurat kepada orang lain.

Ada juga para perempuan yang memakai jilbab, tetapi tidak mengikut peraturan dan kaedah-kaedah sepertimana yang telah di gariskan oleh Islam. Jilbab yang pendek (tidak menutupi dada), tipis dan menampakkan jambul mereka. Sungguh satu cara pemakaian jilbab yang tidak diterima oleh Islam.

b) Memakai pakaian yang tidak tipis/transparan:
Pakaian perempuan hendaklah tebal dan tidak sama sekali menampakkan lekuk tubuh badan mereka. Menghindari memakai pakaian yang tipis yang memperlihatkan lekuk tubuh badannya yang cantik itu adalah diwajibkan dalam Islam dan selalu di pandang berat, agar mereka memelihara diri mereka daripada melakukan hal2 tersebut.
Aisyah r.a berkata :

"Sesungguhnya Asma' Binti Abu Bakar bertemu Nabi S.A.W dalam keadaan memakai pakaian yang tipis, lalu Nabi S.A.W berpaling darinya dan baginda bersabda: "Wahai wanita apabila sudah baligh tidak boleh menampakkan daripadanya (tubuh badannya) kecuali ini, Baginda menunjukkan kepada muka dan dua tapak tangan." (Riwayat Abu Daud)

c) Memakai pakaian yang tidak terlalu ketat:

Pakaian yang sepatutnya dipakai oleh wanita ketika keluar rumah ialah pakaian yang baik dan sopan dalam artian tidak terlalu menampakkan anggota tubuh sebagaimana orang non muslim pada saat ini.

Nabi S.A.W berkata:
"Dua golongan daripada umatku, aku sama sekali tidak akan melihat kedua-keduanya kelak, satu kaum yang membawa cambuk laksana ekor sapi seraya ia memukul-mukul manusia dengan cemeti itu dan perempuan-prempuan yang berpakaian, telanjang berjalan meliuk-liku kekanan dan kekiri, mereka melampaui batas , mengajak orang lain mengikuti mereka , diatas kepalanya, rambutnya meninggi bagaikan pundak unta yang bergoyang-goyang kekanan ke kiri. Muka mereka tidak akan masuk syurga dan tidak akan mencium baunya, padahal bau surga itu dapat dicium dari jarak sekian dan sekian."(Riwayat Muslim)

3) Ketika bepergian lebih dari satu hari satu malam, maka wajib ditemani oleh mahromnya.

Banyak sekali hadis yang melarang wanita mengadakan safar kecuali dengan mahromnya, diantaranya: Dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyAllah Swt. u 'anhu berkata: Berkata Rasulullahu Swt.: "Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah Swt.  dan hari akhir untuk mengadakan safar lebih dari tiga hari kecuali bersama ayah, anak laki-laki, suami,saudara laki-laki atau mahrom lainnya." (HR Muslim)

Dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a dari Rasulullahu Saw. berkata: " Janganlah seorang wanita muslimah bepergian selama dua hari kecuali bersama suaminya atau mahromnya." (HR Ibnu Khuzaimah)

Dari Abu Hurairah bersabda Rasulullahi Saw.: "Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah Swt.  dan hari akhir untuk mengadakan safar sehari semalam tidak bersama mahromnya." (HR Bukhari- muslim)

Dari beberapa hadis ini, kita ketahui bahwa terlarang bagi wanita muslimah untuk mengadakan safar kecuali bersama mahromnya, baik safar itu lama ataupun sebentar. Adapun batasan beberapa hari yang terdapat dalam hadis di atas tidak dapat di fahami sebagai batas minimal.

Berkata Syaikh Salim Al Hilali: "Para Ulama' berpendapat bahwa batasan hari dalam beberapa hadis di atas tidak dimaksudkna untuk batasan minimal. Dikarenakan ada riwayat yang secara umum melarang wanita safar kecuali bersama mahromnya, baik lama maupun sebentar, seperti riwayat Ibnu Abbas r.a beliau berkata: Saya mendengarRasulullahi Saw.bersabda:
"Jangan seorang laki-laki berkholwat (berduaan) dengan seorang wanita kecuali bersama mahromnya,  juga jangan safar dengan wanita kecuali bersama mahromnya, maka ada seorang lelaki berdiri lalu berkata:
"wahai Rasulullah, sesungguhnya istri saya pergi haji padahal saya ikut dalam sebuah peperangan. Maka Rasulullah menjawab: "Berangkatlah untuk berhaji dengan istrimu." HR Bukhori, Muslim,Lihat Mausu'ah Al Manahi Asy Syari'ah)

Berkata Al Hfidz Ibnu Hajar rahimahullah: "Kebanyakan ulama' memberlakukan larangn ini untuk semua safar karena pembatasn yang terdapat dalam hadis-hadis tersebut sangat berbeda-beda." (Lihat Fathul Bari 4/75)

Syaikh sholeh Al Fauzan Hafidzuhullah ditanya tentang hukum wanita safar dengan naik pesawat domestik dalam negeri tanpa mahrom, apakah itu diperbolehkan? Jawab beliau: "Tidak boleh bagi seorang wanita mengadakan safar tanpa mahrom, baik naik pewasat atau mobil, karena Rasulullahi ShallAllah Swt. u 'alaihi wassalam bersabda: "Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah Swt.  dan hari akhir mengadakan safar sehari semalam kecuali bersama mahrom." Maka safar wanita tanpa mahrom itu tidak boleh meskipun dengan alat transportasi yang cepat, karena pesawat atau mobil itu mungkin saja bisa terlambar, rusak, atau terjadi hal-hal lain yang mengharuskan wanita itu harus bersama mahromnya agar bisa menjaganya saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." (Al Muntaqo min Fatwa Syaikh Sholeh Al Fauzan 5/387)

4). Tidak boleh Kholwat (berdua-duaan) kecuali bersama mahromnya

5). Tidak boleh menampakkan perhiasannya kecuali kepada mahromnya
6). Tidak boleh berjabat tangan kecuali dengan mahromnya
Jabat tangan dengan wanita di zaman ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah, padahal Rasullah Saw.sangat mengancam keras pelakunya: Dari Ma'qil bin Yasar:Bersama Rasulullah : "Seandainya kepala seseorang di tusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya." (Hadis hasan riwayat Thobroni dalam Al-Mu'jam Kabir dan Rauyani dalam Musnad: lihat Ash Shohihah)

Berkata Syaikh Al Albani rahimahullah: "Dalam hadis ini terdapat ancaman keras terhadap orang-orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya, termasuk malsaha berjabat tangan, karena jabat tangan itu termasuk menyentuh." (Ash Shohihah)

Dan Rasulullahi Saw.  tidak pernah berjabat tangan dengan wanita, meskipun dalam keadaan-keadaan penting seprti mambai'at dan lain-lain. Dari Umaimah bintih Ruqoiqoh r.a:

Bersabda Rasulullahi Saw: "Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita." (HR Malik Nasa'i, Tirmidzi 1597,Ibnu Majah 2874, ahmad 6/357, dll)

Dari Aisyah r.a: "Demi Allah Swt. , tangan Rasulullah Saw.tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun dalam keadaan membai'at. Beliau tidak memba'iat mereka kecuali dengan mangatakan: "Saya ba'iat kalian." (HR Bukhori)

Keharaman berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahromnya ini berlaku umum, baik wanita masih muda ataupun sudah tua, cantik ataukah jelek, juga baik jabat tangan tersebut langsung bersentuahn kulit ataukah dilapisi dengan kain.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang hal tersebut, maka beliau menjawab: Tidak boleh berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahromnya secara mutlak, baik wanita tersebut masih muda ataukah sudah tua renta, baik lelaki yang berjabat tangan tesebut masih muda ataukah sudah tua, karena berjabat tangan ini bisa menimbulkan fitnah. Juga tidak dibedakan apakah jabat tangan ini ada pembatasnya atau tidak, hal ini dikarenakan keumuman dalil (larangan jabat tangan), juga untuk mencegah timbulnya fitnah".

PEKERJAAN WANITA DI DALAM RUMAH


Beberapa pekerjaan wanita yang bisa dilakukan di dalam rumah:
Beribadah kepada Allah Swt.
Tinggalnya ia di dalam rumah merupakan alternatif terbaik karena memang itu perintah dari Allah Swt.  subhanahu wataala dan dapat beribadah dengan tenang. Allah Swt.  berfirman (artinya):
Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyah yang pertama. Tegakkanlah salat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Allah Swt.  dan Rasul-Nya. (Al Ahzab: 33)

2. Wanita berperan memberikan sakan (ketenangan/keharmonisan) bagi suami. Namun tidak akan terwujud kecuali ia melakukan beberapa hal berikut ini:
- Taat sempurna kepada suaminya dalam perkara yang bukan maksiat bahkan lebih utama daripada melakukan ibadah-ibdah sunah. Rasulullah Saw. bersabda:
Tidak boleh seorang wanita puasa (sunah) sementara suaminya ada di tempat kecuali setelah mendapat izin suaminya. (Muttafaqun alaihi)
Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: Hadis ini menunjukkan lebih ditekankan kepada istri untuk memenuhi hak suami daripada mengerjakan kebajikan yang hukumnya sunah. Karena hak suami itu wajib sementara menunaikan kewajiban lebih didahulukan daripada menunaikan perkara yang sunah. (Fathul Bari 9/356)
- Menjaga rahasia suami dan kehormatannya dan juga menjaga kehormatan ia sendiri disaat suaminya tidak ada di tempat. Sehingga menumbuhkan kepercayaan suami secara penuh terhadapnya.
- Menjaga harta suami. Rasulullah bersabda:
Sebaik-baik wanita penunggang unta, adalah wanita yang baik dari kalangan quraisy yang penuh kasih sayang terhadap anaknya dan sangat menjaga apa yang dimiliki oleh suami. (Muttafaqun alaihi)
- Mengatur kondisi rumah tangga yang rapi, bersih dan sehat sehingga tampak menyejukkan pandangan dan membuat betah penghuni rumah.

3. Mendidik anak yang merupakan salah satu tugas yang termulia untuk mempersiapkan sebuah generasi yang handal dan diridhai oleh Allah Swt.  subhanahu wataala.

PERAN DAN TUGAS WANITA DALAM KELUARGA


Wanita (seorang ibu) itu adalah mengurus di dalam rumah suaminya dan mendidik putra-putrinya (Al Hadis Syarif)

Peran dan tugas perempuan  dalam keluarga secara garis besar dibagi menjadi peran wanita sebagai ibu, ibu sebagai istri, dan anggota masyarakat. Dalam kesempatan kali ini pembicaraan lebih ditekankan pada tugas perempuan dalam membina kesehatan mental bagi dirinya, keluarganya maupun masyarakatnya. Agar dapat melakukan peran atau tugasnya dengan baik, maka perlu dihayati benar mengenai sasaran dan tujuan dari peran itu.

Di samping itu, perempuan harus menguasai cara atau teknik memainkan peran atau melaksanakan tugasnya, disesuaikan dengan setiap situasi yang dihadapinya. Sebagai ibu, pendidik anak-anak perempuan harus mengetahui porsi yang tepat dalam memberikan kebutuhan-kebutuhan anaknya, yang disesuaikan dengan tahap perkembangannya. Sikap maupun perilakunya harus dapat dijadikan contoh bagi anak-anaknya. Sebagai seorang istri, wanita harus menumbuhkan suasana yang harmonis, tampil bersih, memikat dan mampu mendorong suami untuk hal-hal yang positif. Sebagai anggota masyarakat, wanita diharapkan peran sertanya dalam masyarakat.

Keberhasilan melakukan peran di atas, tentunya bukan merupakan hal yang mudah, yang penting adalah kemauan dan usaha untuk selalu belajar.

PERAN WANITA DALAM RUMAH TANGGA


Telah termaktub dalam Al Quran sebagai petunjuk bagi umat manusia yang datang dari Rabbull Alamin Allah Swt.  Yang Maha Memilki Hikmah:
Dan tetaplah kalian (kaum wanita) tinggal di rumah-rumah kalian. (Al Ahzab: 33)
Posisi wanita sebagai sang istri atau ibu rumah tangga memilki arti yang sangat urgen, bahkan dia merupakan salah satu tiang penegak kehidupan keluarga dan termasuk pemeran utama dalam mencetak tokoh-tokoh besar. Sehingga tepat sekali ungkapan: Dibalik setiap orang besar ada seorang wanita yang mengasuh dan mendidiknya.
Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkta: Perbaikan masyarakat dapat dilakukan dengan dua cara:

Pertama: perbaikan secara dhahir, di pasar-pasar, di masjid-masjid dan selainnya dari perkara-perkara dhahir. Ini didominasi oleh lelaki karena merekalah yang bisa tampil di depan umum.
Kedua: perbaikan masyarakat dilakukan yang di rumah-rumah, secara umum hal ini merupakan tanggung jawab kaum wanita. Karena merekalah yang sangat berperan sebagai pengatur dalam rumahnya. Sebagaiman Allah Swt.  subhanahu wataala berfirman (artinya):
Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj (berpenampilan) sebagaimana penampilannya orang-orang jahiliyah yang pertama. Tegakkanlah salat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Allah Swt.  dan Rasul-Nya. Allah Swt.  hanyalah berkehendak untuk menghilangkan dosa-dosa kalian wahai Ahlul bait dan mensucikan kalian dengan sebersih-bersihnya. (Al Ahzab: 33)
dalam At-Thagaabun: 14

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereke; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Swt.  maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Mendidik anak merupakan tugas yang mulia  yang diamatkan Allah Swt.  SWT pada orangtua agar anak-anaknya tidak terjerumus dalam lembah kesesatan, seperti yang difirmankan Allah Swt.  SWT dalam QS At-Tahrim: 6:
Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan ahlimu dari siksa api neraka

ISLAM MENJUNJUNG MARTABAT WANITA


Dienul Islam sebagai rahmatal lilalamin, menghapus seluruh bentuk kezaliman-kezaliman yang menimpa kaum wanita dan mengangkat derajatnya sebagai martabat manusiawi. Timbangan kemulian dan ketinggian martabat di sisi Allah Swt.  adalah takwa, sebagaiman yang terkandung dalam Q.S Al Hujurat: 33). Lebih dari itu Allah Swt menegaskan dalam firman-Nya yang lain (artinya):
Barangsiapa yang mengerjakan amalan salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan pula kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An Nahl: 97)

Rasulullah saw. membuat empat garis seraya berkata: Tahukah kalian apakah ini? Mereka berkata: Allah Swt.  dan RasulNya lebih mengetahui. Nabi Saw. lalu bersabda: Sesungguhnya wanita ahli surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad saw., Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Mazahi. (Mustadrak ash-Shahihain)
Sabda Rasulullah saw. yang lain: Takutlah kepada Allah Swt.  dan hormatilah kaum wanita. (HR Muslim)

Itulah sebagai tanda cinta Islam kepada wanita. Islam memuliakan wanita, dan menempatkannya dalam kedudukan yang terhormat. Kita tahu, bahwa wanita itu makhluk yang lemah dan rentan terhadap tindak kejahatan.